Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Franky Sibarani mengatakan penurunan kinerja di sektor makanan sudah diraba oleh pelaku industri mendekati akhir tahun lalu.
"Itu sesuai dengan perkiraan terakhir sebesar 8%. Memang targetnya 10-13%, banyak kendala tahun lalu," kata Franky kepada detikFinance, Kamis (2/2/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalah gas itu salah satunya," katanya.
Ia juga pernah mengatakan masalah lainnya adalah bunga bank yang masih tinggi. Investor-investor baru yang berbasis luar negeri akan mudah berinvestasi karena menggunakan dana sendiri atau perbankan dengan bunga murah. Sementara industri dalam negeri tergantung bunga bank lokal yang menyediakan bunga mahal.
Padahal, sambung Franky, apalagi untuk industri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dimana sekitar 1 juta industri mamin, 99,5%-nya adalah industri UMKM dan rumah tangga.
Masalah lainnya mengenai masalah Upah Minimum Regional (UMR) yang sekarang sedang hangat dibicarakan. Kemudian masalah pembangunan Infrastruktur yang lambat dan biaya logistik yang mahal.
Industri mamin dalam negeri perlu mendapat perlindungan antara lain dengan cara penetapan wajib label berbahasa Indonesia yang menyatu dengan kemasan. Juga larangan menggunakan stiker. Saat ini banyak produk impor resmi dan ilegal yang beredar tanpa izin.
Selain itu diperlukan penguatan pengawasan di daerah perbatasan (antar negara), pelabuhan-pelabuhan resmi dan pelabuhan lain pun merupakan ancaman serius adalah import ilegal yang masih banyak di berbagai daerah perbatasan dan luar Jawa.
Gapmmi memang pernah mengestimasi pada 2011 nilai investasi di sektor makanan dan minuman nasional mencapai Rp 20 triliun memang terjadi penurunan dibandingkan tahun 2010 sebesar Rp 25,6 triliun. Pada tahun ini Gapmmi memperkirakan investasi di sektor mamin bisa mencapai Rp 30 triliun.
Adhi optimis tahun ini investasi maupun pertumbuhan sektor makanan dan minuman akan tumbuh lebih baik. GAPMMI targetkan omset industri makanan dan minuman akan tumbuh 8% sampai 10%, dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa dinilai menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan.
"Untuk tahun 2012, diharapkan omset industri makanan dan minuman akan tumbuh 8% sampai 10% atau lebih besar dari pertumbuhan tahun 2011," kata Ketua Umum Gapmmi Adi Lukman beberapa waktu lalu.
(hen/dnl)











































