RI Tertinggal oleh Thailand Soal Produksi Susu Lokal

RI Tertinggal oleh Thailand Soal Produksi Susu Lokal

- detikFinance
Selasa, 14 Feb 2012 19:47 WIB
RI Tertinggal oleh Thailand Soal Produksi Susu Lokal
Jakarta - Hampir 10 tahun terakhir produksi susu segar lokal stagnan dengan harga yang rendah, fenomena ini terjadi karena minimnya anggaran yang dialokasikan pemerintah. Indonesia tertinggal dalam hal pengembangan susu bahkan kalah dengan Thailand dan Vietnam

Anggota Komisi IV DPR RI Rofi Munawar mengatakan pemerintah dapat mendorong program susu untuk Anak sekolah berbasis susu segar (school milk program) dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong pengembangan usaha peternakan sapi perah rakyat.

Misalnya pemerintah Thailand yang menganggarkan hampir US$ 400 juta per tahun, saat ini produksi susu segarnya hampir dua kali lipat dibandingkan Indonesia. Demikian juga dengan negara lain seperti Iran, Vietnam, Korea, Jepang, Pakistan, Rusia, dan China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Data Dewan Persusuan Nasional tercatat terdapat 120 ribu rumah tangga peternak sapi perah yang sebagian tersebar berlokasi di Pulau Jawa. Rata-rata setiap peternak memiliki sapi sekitar 2-4 ekor.

Setiap hari tidak kurang dari 1900 ton susu segar yang dihasilkan para peternak dengan nilai sekitar Rp 6,5 miliar. Tingkat konsumsi susu di Indonesia sekitar 10 liter/kapita/tahun, namun selama satu dekade hanya mampu memenuhi sekitar 25 persen kebutuhan susu nasional selebihnya harus impor.

Ia meminta kepada Pemerintah untuk mengalokasikan anggaran di APBN guna pengembangan susu nasional serta mendorong industri pengolahan susu (IPS) untuk menyerap susu tradisional dengan harga yang wajar dan kualitas yang kompetitif. Menurut data Nielsen, Produsen susu bubuk asing menguasai sekitar 87% pasar Indonesia hingga kuartal I 2011.

"Produksi susu segar nasional nyaris stagnan dalam satu dekade ini. Perlu langkah yang progresif dan komitmen yang serius dari Pemerintah untuk mendorong peningkatan konsumsi maupun produksi susu segar nasional. Selain itu Pemerintah juga harus memberikan perlindungan harga yang kompetitif dan wajar bagi petani dihadapan IPS," katanya usai rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Dewan Persusuan Nasional (DPN) di Jakarta (14/2/2012)

Rofi menambahkan selama hampir 11 tahun susu segar dalam negeri rata-rata harganya 30% jauh di bawah harga bahan baku susu eks impor. Menurutnya hal ini tidak berimbang dan jauh dari semangat perlindungan terhadap produsen susu segar nasional.

Harga bahan baku susu impor dengan komposisi kandungan skim milk powder, anhydrous milk fat, serta nilai tukar dolar terhadap rupiah, ditambah bea masuk sebesar 5 persen. Diperoleh perbandingan harga 1 liter susu segar yang dibeli IPS dengan harga bahan baku susu ex impor setara dengan 1 liter susu segar dengan kandungan total solid sekitar 12 % dan kandungan bakteri sesuai dengan SNI.

"Ternyata harga susu segar dalam negeri dihargai IPS lebih rendah dibandingkan bahan baku susu eks impor. Tahun 2011 harga bahan baku susu eks impor mencapai Rp 4700 sedangkan harga susu segar lokal hanya dihargai Rp 3020 rupiah oleh IPS ditambah insentif yang berkisar antara Rp 380-850 per liter," katanya.

Dikatakannya kalangan IPS menentukan harga susu segar berdasarkan kualitas susu dan kandungan bakteri (TPC), namun praktek yang terjadi selama ini penentuan kandungan bakteri ditetapkan secara sepihak oleh IPS. "Tentu kondisi ini sangat merugikan bagi peternak," katanya.
(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads