Menurut Ketua Umum Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono, ia kerap berkunjung ke Eropa seperti negara-negara Jerman, Belgia dan lain-lain. Ternyata ia justru banyak menemukan furnitur termasuk kursi di lembaga pemerintah seperti Belgia justru banyak berasal dari Indonesia.
"Saya terus terang sangat kecewa karena saya ke Belgia, saya sangat bangga, kursi-kursi pemerintah di sana buatan Indonesia, setelah saya balik ke Indonesoa saya, dengar DPR impor, saya sangat kecewa," katanya di acara konferensi pers di Penang Bistro Jalan Kebon Sirih, Jakarta (15/2/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu mark up, itu jelas. Kalau itu mark up itu namanya se-mark up mark up-nya, coba saja lihat, dari pengadaan kursi itu pasti beda dari harga sebenarnya Rp 5-6 juta sekarang dia bikin berapa," katanya.
Ambar mengatakan kedepannya pemerintah dan DPR harus peka terhadap kondisi masyarakat. Apalagi kalau itu dikaitkan dengan semangat mencintai dan menggunakan produk dalam negeri yang ujung-ujung samakin menambah lapangan pekerjaan.
"Kalau menurut saya nggak harus diampuni karena menipu negara dan orang-orang banyak," katanya.
Seperti diketahui kursi-kursi impor di ruang Banggar DPR sudah diganti. Sekitar 178 kursi impor dari Jerman diganti dengan produk lokal. Kursi ruang Banggar diganti pada Kamis malam (2/2/2012).
Kursi ekspor itu harganya sekitar Rp 24 juta per unit, sedangkan kursi lokal penggantinya tidak sampai Rp 2 juta. Meski begitu, penggantian furnitur yang signifikan ini tak serta merta menurunkan anggaran menjadi hanya satu digit saja. Harga renovasi ruangan ini masih berkisar Rp 15 miliar, yang berarti hanya hemat sekitar Rp 5 miliar rupiah dari sebelumnya Rp 20 miliar.
(hen/dnl)











































