"BBM pengaruh sama produksi, aku dengar naik Rp 1500, kenaikan ongkos produksi, lebih dari 5%, paling nggak di 7% sampai 10%," kata Marketing Manager Rimbawood Arsi Lestari, Lismawati saat ditemui detikFinance seusai acara Dialog Bisnis Indonesia dan Uni Eropa di Hotel Marriot, Jakarta, Rabu (21/03/2012).
Kondisi BBM naik, semakin memperparah kondisi perusahaanya. Rimbawood mengalami penurunan ekspor karena krisis global yang melanda Eropa dan AS. Penjualan mereka mengalami penurunan drastis terutama di pasar AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dari saya 95% ke Amerika Serikat, cuma Amerika kan sedang krisis, jadi ada penurunan 20-30%, nilai ekspor kita US$ 12 juta, setiap bulan rata-rata 1 juta. tapi kapasitas di US$ 2,5 juta per bulan. Penurunan 20-30 %, sekarang menjadi US$ 800-900.000," katanya.
Oleh sebab itu Rimbawood tidak mau hanya berada di ruang ingkup pasar Amerika saja. Mereka ingin mencoba untuk mulai merambah ke pasar Eropa. Meskipun pasar Eropa pun saat ini sedang mengalami kelesuan.
"Jadi kita nggak mau ngandelin Amerika aja, jadi kita melirik ke Eropa. Uni Eropa, 16 negara," katanya.
Lismawati mengaku mengalami kesulitan dengan regulasi baru yang dibuat untuk sertifikasi ekspor ke Uni Eropa, walaupun disisi lain perusahaan Rimbawood yakin bahwa perusahaannya akan masulk regulasi ini.
"Cuma kita mentok di regulasi, yang kita tau regulasi EU nggak mudah. tapi FSC kita sudah punya dan kita berkeyakinan masuk lah, Tapi tetep kita harus belajar regulasi ini," ujarnya dengan yakin.
(zlf/hen)










































