Melalui anak perusahaannya, yaitu PT Mitra Ogan dan PT Laskar. Perseroan berencana menambah jumlah lahan sawit hingga lebih dari 100.000 hektar.
"Sebanyak 24.000 hektar itu (PT Mitra Ogan) yang akan dilakukan untuk tahun 2012 ini dan PT Laskar sudah memiliki lembeng (lahan baru) 65.000 hektar serta akan ditingkatkan menjadi 100.000 hektar," kata Dirut PT RNI Ismed Hasan Putro kepada detikFInance saat kunjungan di perkebunan sawit dan pabrik CPO milik PT Mitra Ogan dan PT Laskar, Sabtu (7/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk dananya akan diperoleh dari sumber internal perusahaan dan pinjaman perbankan. Selain itu, akan menggunakan dana cadangan BUMN Perkebunan senilai Rp 3,5 triliun.
"Di holding BUMN perkebunan itu kan ada dana sekitar Rp 3,5 triliun yang tercadangkan yang bisa digunakan untuk sinergi antar BUMN," tambahnya.
Selain membuka perkebunan inti, perusahaan yang memiliki 15 anak usaha ini, berencana membuka perkebunan plasma sawit yang dimiliki warga tetapi dikelola oleh perusahaan. Hal ini karena setiap perkebunan sawit, oleh pemerintah diwajibkan menyediakan sebanyak 20% dari lahan perkebunan untuk perkebunan plasma.
"Berarti 20.000 hektar harus diberikan untuk plasma dan Insya Allah tahun ke-9 sudah balik investasinya dan sudah bisa memperoleh keuntungan," kata Dirut yang baru 1 bulan dilantik ini.
Menurut Ismed, PT RNI (Mitra Ogan) juga berencana membangun power plant (pembangkit listrik mandiri) dengan energi terbarukan dari bahan baku cangkang sawit untuk mendukung pasokan listrik secara mandiri pabrik CPO dan perumahan di lingkungan pabrik.
Kapasitas pembangkit listriknya bisa mencapai 10 MW, sementara kebutuhan pabrik tidak lebih dari 5 MW, sisanya bisa dijual kepada pihak PLN.
"Investasi pembangunan power plant itu mencapai Rp 35-40 miliar, itu cukup kecil tapi jangka panjang sangat menguntungkan dan yang menguntungkan lagi produk kita menjadi go green," tegasnya.
(feb/hen)











































