"Kita ngobrol-ngobrol saja sambil makan siang. Saling tukar informasi dan pemikiran. Mulai masalah dulu dan masalah sekarang," imbuh Rahardi Ramelan, Menteri Perdagangan era Presiden BJ Habibie.
Rahardi menuturkan banyak perbedaan sistem perdagangan saat ini dan dahulu, khususnya terkait pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait defisit perdagangan Indonesia dengan China yang telah mencapai $ 5 miliar sampai $7 miliar pada tahun 2011. Menurutnya pemerintah harus mengatur kembali sistem perdagangannya dan melihat kembali China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA) agar dapat bersaing dengan China.
"Itu sudah sangat repot, kita harus mengatur kembali perdagangan kita. Jadi CAFTA itu harus ditinjau kembali" imbuhnya
Dalam kesempatan itu Rahardi memberikan saran kepada pemerintah terkait pengaturan komoditi perdagangan Indonesia. "Saya menyarankan agar bursa komoditi kita untuk diberesin, karena bursa komoditi kita nggak jalan," tegasnya.
(feb/hen)











































