Bagaimana tanggapan para penjual dan konsumen?
Misalnya Reni salah satu pedagang rokok eceran di depan Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini Jakarta, mengaku tidak tahu dengan rencana penerapan RPP Tembakau tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mana bisa, karena banyak orang ngeteng (beli eceran) kalau bungkus jarang. Lebih banyak ngeteng. Orang bisa beli 2 atau 3 batang. Kalau suruh bungkusan ya nggak bisa. Orang kalau beli rokok (bungkusan) paling murah Rp 10.000," ungkapnya kepada detikFinance, Minggu (22/4/2012).
Secara terpisah Miing, salah satu pedagang yang berjualan rokok di dalam TIM mengaku merasa keberatan kalau penjualan rokok secara eceran dilarang. Kadang-kadang petugas marketing perusahaan rokok malah menganjurkan menjual rokok secara eceran untuk rokok baru agar konsumen bisa mencoba.
"Ya mengurangi penjualan saya," imbuh Miing.
Sementara dari konsumen rokok sendiri merasa tidak berpengaruh dengan iklan rokok bergambar dampak dari merokok di dalam bungkus rokok. Salah satunya Pardi, dia merasa tidak terpengaruh dengan munculnya rencana pembatasan iklan tersebut terhadap kebiasaan merokoknya. Ia malah keberatan dengan larangan menjual rokok secara eceran.
"Saya sering ngeteng. Kalau ngeteng 3 batang. Kalau saya nggak setuju kalau ngecer rokok batangan dilarang," sebut Pardi.
Sementara Rosidi salah satu perokok malah merasa jijik dan bakal mempengaruhi kebiasaan merokoknya jika ada gambar yang menampilkan dampak buruk merokok yang dikemas dalam bungkus rokok. Dia juga agak keberatan jika dilarang membeli rokok secara eceran.
"Kalau saya seringnya beli ngeteng (ngecer). Sesuai kapasitas saya. Kalau saya punya duit, ya beli bungkusan," ungkap Rosidi.
(hen/hen)











































