Menurut Wakil Ketua Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur hal ini sangat lumrah terjadi, pasalnya produk Made in China dinilai lebih murah dan memiliki kualitas yang bagus.
"Ya itu otomatis defisit kita dari tahun ke tahun semakin besar, karena China produknya lebih murah, lebih bagus, banyak yang beli," ungkap Natsir kepada detikFinance Kamis (3/5/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Segmentasi pasar China kan di Indonesia besar, ditambah krisis Eropa yang sedang terjadi," papar Natsir.
Natsir menambahkan hal ini tidak dapat dikendalikan mengingat dari beberapa waktu belakangan ini khususnya pada triwulan 1-2012. Efek perdagangan bebas kian hari semakin nyata terhadap pebisnis di dalam negeri, khususnya sektor industri manufaktur. "Ini nggak ada solusinya, orang pada beli barang China karena lebih murah dan lebih bagus," tegasnya.
Menurutnya, produk impor China yang masuk ke Indonesia terbesar adalah dari sektor manufaktur.
Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia-China pada triwulan I-2012 ini sebesar US$ 1,6 miliar. Total nilai ekspor Indonesia ke China dalam 3 bulan sebesar US$ 5 miliar, sementara nilai impornya US$ 6,6 miliar.
Komoditas impor yang tumbuh subur pada bulan Maret ini adalah kendaraan dan komponennya, dengan pertumbuhan 68,6% dari bulan sebelumnya yang hanya senilai US$ 55,9 juta menjadi US$ 150 juta.
Direktur Statistik Distribusi BPS Satwiko Darmesto menyatakan defisit perdagangan Indonesia 2011 semakin besar jika dibandingkan tahun 2010. Pada tahun 2010, defisit perdagangan Indonesia-China sekitar US$ 2 miliar, kemudian membengkak menjadi US$ 3 miliar pada tahun 2011.
(zul/hen)











































