Pabrik yang berkapasitas produksi 1,2 juta ton per tahun ini diharapkan bisa memasok kebutuhan semen di pasar Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat yang cukup besar. Rencananya dalam dua tahun kedepan atau paling cepat 2013, pabrik ini sudah bisa beroperasi.
"Baik pasar semen di Banyuwangi, Bali, dan NTB, masih mengandalkan suplai semen Bosowa dari Maros Sulawesi Selatan. Tentu ini tidak efisien. Itu sebabnya Semen Bosowa Banyuwangi harus dibangun," ungkap Direktur Utama Bosowa Erwin Aksa di acara Ground Breaking Grinding Plant Semen Bosowa di Banyuwangi, Senin (7/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sedangkan bila keseluruhan Jawa digabung dengan Bali dan NTB, maka akan mewakili 58% pasar semen nasional dengan total produksi per tahun sebesar 23,7 juta ton per tahun," ungkap Erwin.
Menurutnya peluang pasar semen di Indonesia semakin menjanjikan karena permintaan konsumen tumbuh 6-8% per tahun. Selain itu, konsumsi semen per kapita Indonesia juga masih rendah 143 kg per kapita/tahun. Padahal konsumsi rata-rata semen ASEAN sebesar 150-800 kg/kapita/tahun.
"Meski konsumsi per kapita masih rendah, toh permintaan semen Indonesia tetap tinggi," ungkapnya.
Erwin juga menuturkan Bosowa akan memperluas pabrik Semen Bosowa Maros demi mencapai peningkatan produksi menjadi 2,5 juta ton, dari 1,6 juta ton produksi saat ini. Sementara untuk Pabrik Semen Bosowa Batam kapasitas produksinya akan ditingkatkan menjadi 1,8 juta ton dari produksi saat ini yakni 1,2 juta ton per tahun.
"Sebelum 2014, Semen Bosowa (Maros-Batam-Banyuwangi) diharapkan bisa memproduksi semen menjadi 5 juta ton/tahun," tutup Erwin.
Data mencatat untuk industri semen nasional, produksi semen naik 87,7% dari 30,7 juta ton pada 2003 menjadi 40,7 juta ton pada 2010. Pada 2011 lalu sebesar 42,7 juta ton.
(/)











































