Dahlan: Mesin Pabrik Gula Dirawat Seperti 'Widyawati & Ayu Azhari'

Dahlan: Mesin Pabrik Gula Dirawat Seperti 'Widyawati & Ayu Azhari'

- detikFinance
Senin, 07 Mei 2012 13:50 WIB
Dahlan: Mesin Pabrik Gula Dirawat Seperti Widyawati & Ayu Azhari
Jakarta - Kondisi mesin-mesin yang tua menjadi masalah klasik industri gula BUMN yang mencakup 52 pabrik. Pabrik-pabrik yang sudah uzur itu sudah seharusnya mendapat perawatan ekstra.

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan langkah perbaikan para pabrik gula ini tidak hanya menggunakan satu cara saja. Menurutnya penanganan pabrik-pabrik tua harus dilakukan perbaikan dan perawatan yang lebih khusus dari biasanya. Ia mencontohkan jalur-jalur pipa yang ruwet yang membuat boros uap sudah dibetulkan dan ketel-ketel yang tidak efisien diperbaiki.

"Mesin-mesin itu memang masih tetap tua, tapi mesin tua yang dirawat dan yang tidak dirawat tidak akan sama. Lihatlah 'Widyawati! Atau Ayu Azhari!," kata Dahlan seperti dikutip dari situs kementerian BUMN, Senin (7/5/2012)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dahlan secara gamblang menambahkan kenyataanya para pabrikan gula saling bersaing, masing-masing pabrik gula 'mencuri start' untuk menggiling tebu. Menurutnya pada masa lalu pabrik gula berebut mulai giling lebih awal dengan maksud agar bisa menyedot tebu dari wilayah pabrik gula yang lain, akibatnya ada pabrik gula yang tidak kebagian tebu.

"Sedot-menyedot tebu inilah yang membuat lalu-lintas tebu kacau sekali. Tebu dari wilayah barat lari ke pabrik gula yang di timur. Tebu timur lari ke barat. Akibatnya, pabrik gula tidak perlu punya program membantu petani sekitarnya untuk menanam tebu yang lebih baik. Sedot saja tebu dari wilayah yang jauh," katanya.

Pola semacam ini membuat tak efisien, dengan adanya subsidi biaya angkut jarak jauh maka ruang korupsi pun terbuka. Tebu dari wilayah sekitar dibukukan dari jauh agar ada biaya subsidi angkut. "Akhirnya bisnis angkutan tebu bisa lebih menarik dari bisnis tebu itu sendiri," katanya.

Selain itu, soal kesepakatan tanggal dimulainya musim giling, ia juga telah menetapkan soal jaminan kadar kandungan gula didalam batang tebu (rendemen) minimal. Dengan adanya ini, maka masing-masing pabrik gula harus memberikan jaminan kepada petani tebu di sekitarnya.

"Dengan jaminan rendemen minimal itu tidak akan ada lagi petani yang merasa ditipu pabrik. Rendahnya rendemen yang diakibatkan ketidakefisienan sebuah pabrik gula tidak lagi dibebankan kepada petani tebu. Di mana dosa petani tebu kalau rendemen rendah itu akibat mesin ketel yang tidak efisien? Bukankah itu sepenuhnya dosa pabrik? Mengapa petani tebu harus ikut menanggung?" kata Dahlan.

Menurutnya soal rendemen tebu memang persoalan sentral. Kenyataanya, tanaman tebu yang ditanam tanpa mengikuti standar penanaman tebu yang baik tidak akan bisa menghasilkan gula dengan rendemen yang tinggi.

"Sebaliknya, jangan sampai terjadi, tebu yang baik tidak menghasilkan rendemen yang tinggi gara-gara pabriknya tidak efisien. Dengan kata lain sikap fair dari pabrik gula sangat diperlukan oleh petani tebu. Termasuk jangan sampai terjadi tebang pilih," katanya.
(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads