Maskapai RI Masih Boleh 'Borong' Sukhoi SSJ 100

Maskapai RI Masih Boleh 'Borong' Sukhoi SSJ 100

- detikFinance
Jumat, 11 Mei 2012 10:56 WIB
Maskapai RI Masih Boleh Borong Sukhoi SSJ 100
Jakarta - Pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tidak melarang maskapai nasional untuk 'memborong' pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100). Pemerintah tak mau campur tangan dalam pembelian pesawat asal Rusia ini.

Dikutip dari situs Kemenhub, Jumat (11/5/2012), Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti mengatakan saat ini sudah ada pemesanan 42 pesawat Sukhoi SSJ 100 oleh dua maskapai nasional.

Adapun dua maskapai yang sudah memesan Sukhoi ini adalah Kartika Airlines sebanyak 30 pesawat dan Sky Aviation sebanyak 12 pesawat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemerintah tak mau ikut campur karena pemesanan pesawat ini merupakan urusan bisnis antara Sukhoi dengan maskapai yang bersangkutan.

Terkait kecelakaan Sukoi SSJ 100, Herry mengatakan, meminta semua pihak menunggu hasil dari penelitian dan investigasi tim dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Herry mengatakan pihak Rusia yang menerbangi pesawat Sukhoi berkapasitas 100 orang itu sudah mendapat ijin untuk promosi penerbangan dari Kementerian Luar Negeri, Mabes TNI, dan Kemenhub dan memilih terbang ke wilayah udara di kawasan Landasan Udara TNI AU Atang Sandjaya, Bogor.

โ€œTujuan mereka adalah untuk promosi Sukhoi di Indonesia dan dilaksanakan di Bandara Halim Perdana Kusuma dengan mengundang komunitas penerbangan,โ€ ujar Herry.

Menurut Herry, pesawat hilang kontak setelah 12 menit terbang yakni dari pukul 14.21 hingga 14.33 dan meminta untuk merendahkan penerbangan dari 10.000 feet menjadi 6.000 feet kepada ATC. Namun ternyata pada akhirnya ditemukan di pegunungan Salak di wilayah Kabupaten Sukabumi. Apabila posisi pesawat masih di atas Atang Sanjaya, kerendahan penerbangan tersebut tidak bermasalah dan tetap bisa dilakukan oleh pesawat udara.

Herry mengemukakan, pilihan terbang di kawasan Bogor memang sering dilakukan mengingat minimnya penerbangan di wilayah udara tersebut dan tidak ada penerbangan berjadwal yang melewati wilayah itu kecuali untuk pesawat carter.

Kemungkinan cuaca yang kurang bagus yang menghalau pandangan pilot, menurut Herry berdasarkan data dari BMKG diketahui bila kondisi cuaca tertutup awan namun tidak sampai penuh. Namun Herry tidak bisa memastikan apakah itu menjadi salah satu penyebab atau tidak, sebelum hasil investigasi dilakukan KNKT dan dirilis ke publik.

"Kita tidak bisa mengira-ngira atau memprediksi apa yang menjadi faktor terjadinya kecelakaan, kita tunggu saja hasil investigasi KNKT," imbuh Herry.

Seperti diketahui, pesawat Sukhoi Superjet 100 melakukan joy flight dari Bandara Halim Perdana Kusuma dalam rangka promosi kepada konsumennya. Setelah berhasil pada penerbangan pertama, pesawat yang mengangkut penumpang dari berbagai kalangan termasuk lima wartawan itu hilang kontak dan ditemukan di kawasan gunung Salak pada Kamis (10/5/2012) pagi oleh tim SAR.


(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads