Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 15 Mei 2012 19:32 WIB

Pembuatan Mobil Hybrid Butuh Waktu Hingga 3 Tahun

- detikFinance
Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan pembuatan pabrik mobil hybrid di Indonesia bisa memerlukan waktu sampai 3 tahun hingga lokalisasi komponen.

"Buat saya lebih bagus secepatnya proses Completely Knocked Down (CKD) dan manufacturing tapi kelihatannya 3 tahun baru proses lokalisasi," kata Hidayat kepada wartawan di kantornya, Selasa (15/5/12).

Dalam rencana pemerintah ini, MS Hidayat mengungkapkan dalam waktu dekat ini, dirinya akan berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk membicarakan pajak-pajak dan insentif, bea masuk terkait impor mobil hybrid dan komponennya.

"Nanti perundingan resminya deengan Pak Agus Marto (Menkeu), minggu ini saya akan bertemu Pak Agus. Setelah nanti disetujui kemudahan dan penghapusan pajak, baru tes pasar. Sedikit makan waktu juga, karena Indonesia mesti bikin peraturan jelas dan fair," tambahnya.

Ia menuturkan sampai sekarang hanya Toyota Astra Motor yang sudah melakukan diskusi terkait produksi mobil hybrid di Indonesia. Hidayat mengungkapkan industri mobil hybrid ini akan terbuka untuk perusahaan mobil apa saja, sampai merambah produsen mobil Eropa.

"Nanti bisa juga Honda, mungkin juga Toyota punya cita-cita mobil hybrid yang sellable di Indonesia bukan hybrid Prius tapi mungkin dibikin special type seperti MPV yang harganya Rp 200 juta-an," paparnya.

Presiden SBY berniat mengembangkan mobil hybrid di Indonesia. SBY telah membentuk tim didalamnya ada Menteri Perindustrian MS Hidayat dan Menteri Keuangan Agus Martowardojo untuk bernegosiasi dengan prinsipal mobil.

Seperti diketahui, Hidayat mengatakan Mobil Hybrid yang merupakan kombinasi tenaga listrik dan BBM diyakini sangat hemat bahan bakar, karena 1 liter BBM yang dipakai mobil hybrid bisa menempuh hingga 30 Km, ini sulit dicapai dengan mobil konvensional. Untuk mengembangkan mobil ini membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk bisa dibuat Indonesia.

"Kalau untuk bisa diproduksi nasional perlu persiapan 1 sampai 1,5 tahun, selama tenggang waktu itu bisa diberikan insentif, agar harganya bisa turun," katanya.



(zul/hen)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed