Ketua Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) Abdillah Sani mengatakan, jika ingin menembus pasar ekspor, maka pelaku UKM tersebut harus memiliki banyak kelebihan, punya pasar yang baik di dalam negeri, kemudian produk yang dijual harus mempunyai originalitas.
"Sumber daya manusia (SDM) juga harus baik dan cukup," jelas Sani saat ditemui di JCC, Senayan, Jakarta, Sabtu (19/5/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah masih minim melakukan sosialisasi kepada pelaku UKM soal peluang-peluang ekspor. Karena itu masih banyak pelaku UKM yang buta mengakses pasar ekspor.
"Lalu pengetahuan standar ekspor yang tidak diketahui banyak UKM. Para pelaku UKM juga tidak punya jejaring," tambah Sani.
Kemudian masalah lainnya adalah kurangnya permodalan para UKM untuk menembus pasar ekspor, serta ketidaktahuan mereka terhadap harga produk ekspor.
"Pilihannya berubah atau mati. Kalau UKM tidak mengikuti pasaran dunia, maka UKM akan mati. Kalau bisa ikuti pasaran dunia maka dia akan hidup," papar Sani.
Saat ini usaha yang dilakukan pemerintah untuk membuka pasar ekspor bagi UKM adalah dengan membuat badan perwakilan perdagangan di seluruh dunia di 23 negara, dan ada 19 ITC (international trade center).
"Kami juga akan mengadakan pelatihan agar UKM siap tempur. Lalu melakukan sertifikasi ekspor dan impor kepada UKM. Terus, melakukan persiapan identifikasi kelebihan UKM, apa yang lebih dari UKM ini. Lalu siapkan strategi yang harus dilakukan, ketiga harus punya rencana. Lalu pengembangan pasar, promosi, dan menentukan harga ekspor yang kompetitif," tutur Sani.
(dnl/dnl)











































