Cerita Direksi Merpati: Rugi Rp 200 Miliar Bukan Salah Karyawan

Cerita Direksi Merpati: Rugi Rp 200 Miliar Bukan Salah Karyawan

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Senin, 28 Mei 2012 14:56 WIB
Cerita Direksi Merpati: Rugi Rp 200 Miliar Bukan Salah Karyawan
Jakarta - PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati) bagaikan perusahaan negara yang dipinggirkan karena minimnya keberpihakan pemerintah. Jumlah armada yang terbatas menjadikan Merpati tidak dapat mengoptimalkan kinerjanya. Bahkan hingga April, perseroan merugi Rp 200 miliar.

"Bulan pertama hingga keempat rugi bersih Rp 200 miliar," kata Anggota Solidaritas Pegawai Merpati, yang juga VP Financial Merpati, I Wayan Suwarna dalam pertemuan dengan BPK, Senin (28/5/2012).

Ruginya Merpati, bagi Wayan, bukan berarti karyawan tidak bekerja maksimal. Ini lebih kepada minimnya armada perseroan hingga kinerja operasi tidak bisa optimal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, ketika Dirut sebelumnya yakni Sardjono Jhony masih menjabat Dirut Merpati skema restrukturisasi terus berjalan. Termasuk agenda penambahan lima pesawat jet baru untuk menghidupkan 'nafas' Merpati.

Penambahan direncanakan terjadi Juni 2012, dan estimasi total armada jet Merpati menjadi 12 pesawat dari yang saat ini delapan pesawat. Di tengah penantian pesawat baru tersebut, sang 'Pilot' MNA Jhony digantikan Rudy S. Purnomo.

Tak ayal, perubahan pimpinan merusak rencana bisnis Merpati yang telah disusun 2008. Benar saja, Rudy membuat kebijakan baru yakni menghentikan penambahan armada jet.

"Padahal ini telah sesuai dengan business plan dan disahkan dalam RUPS. Ini malahh distop. Idealnya Merpati punya 12 pesawat agar bisa hidup, beroperasi," papar Kapten Eman Supriatman kepada detikFinance.

"Ini diibaratkan, kami sudah mau lepas landas kemudian ada anak bodoh masuk ke pesawat dan mematikan mesin," tegas Eman.

Solidaritas Pegawai Merpati juga menerangkan, Merpati yang merugi Rp 2 miliar per hari tidak sepenuhnya benar. Pernyataan Rudy atau Menteri BUMN, Dahlan Iskan ini tidak berdasarkan atas data yang akurat.

"Kalau itu harus dilihat secara menyeluruh, tahunan. Jangan sepotong-potong. Yang kemarin ini kan memang lagi low season. Dan tidak cuma Merpati. Airlines yang lain juga," paparnya.

(wep/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads