Alasannya, armada angkutan yang sangat terbatas padahal potensi tingkat keterisian pesawat sangat besar menjelang high season, seperti libur sekolah dan lebaran.
"Pemasukan kita per bulan Rp 136 miliar, sedangkan pengeluaran Rp 179 miliar," kata VP Financial MNA, I Wayan Suwarna kepada detikFinance, Selasa (29/5/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dirut baru malah menghentikan penambahan pesawat. Padahal kita siap-siap menghadapi high season. Dan jadwal datang Juni 2012, hingga bisa menutup kebutuhan. Malah distop," paparnya.
Kinerja yang loyo juga terlihat dari asumsi bahan bakar yang hanya dipatok Rp 65 miliar dalam RKAP, dan realisasinya meningkat menjadi Rp 90 miliar.
Jika kebijakan terbaru tidak juga diperbaiki, Merpati tak akan lagi meraih pendapatan. "Dengan penambahan (pesawat) kita bisa kejar pendapatan. Kalau tidak (tambah), nggak dikejar lagi," tegas Ery Wardhana, wakil SPM.
(wep/dru)











































