"Smelter memerlukan capital yang cukup tinggi. Maka kita ingin Bank Indonesia turun campur," kata Hidayat dalam sambutan Indonesia Mining Update di Ritz Carlton, Jakarta, Kamis, (31/5/2012)
Ia mengaku telah melakukan komunikasi dengan Bank Indonesia. Hidayat berharap ada penunjukan perbankan dalam mendukung pendanaan investasi smelter ini, seperti bank-bank BUMN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebut, teknologi pemurnian tambang penting. Selain menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi, smelter memberi peluang alih teknologi. Sehingga Indonesia pun menjadi bangsa yang besar bukan karena ekspor mineral mentah, tapi juga berdaya saing.
"Kebijakan di bidang tambang akan memberikan masa depan lebih baik. Dalam forum ini berkumpul praktisi tambang dan konsultan, kami terbuka dan ingin meminta masukan dari mereka," imbuh Hidayat.
MS Hidayat terus mendorong semua perusahaan besar membangun smelter atau pabrik olahan mineral di Indonesia. Diharapkan mereka bisa mengekspor mineral dalam bentuk barang jadi.
"Saya ingin mereka membangun smelternya di sini dan bahan baku kita jamin. Jadi dia nanti ekspor ke luar negeri, terutama ke negaranya, sudah menjadi barang jadi," kata Hidayat beberapa waktu lalu.
Saat ini menurut Hidayat sudah ada 17 perusahaan asing yang telah berniat untuk membangun smelter di Indonesia. 17 perusahaan tersebut telah mengajukan permohonan itu ke Kementerian ESDM. "Ngelamarnya ke ESDM, katanya sudah lebih dari 17 unit perusahaan," katanya.
(wep/hen)











































