135 Ribu Hektar Tambak Udang di Jawa Direvitalisasi

135 Ribu Hektar Tambak Udang di Jawa Direvitalisasi

Irul Hamdani - detikFinance
Jumat, 01 Jun 2012 15:13 WIB
135 Ribu Hektar Tambak Udang di Jawa Direvitalisasi
Banyuwangi - Kementerian Kelautan dan Perikanan akan merevitalisasi lahan tambak udang di pulau Jawa. Lahan yang direvitalisasi mencapai 135.213 hektar.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Subiyakto mengatakan, program revitalisasi ini akan dimulai tahun ini hingga 2014 mendatang.

Menurut Slamet, udang memiliki nilai ekonomis tinggi dan permintaan pasar yang besar. Seperti udang windu dan udang vaname yang hingga saat ini tetap menjadi primadona nasional. Sebab itu udang menjadi komoditas utama dalam program revitalisasi tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Baik udang windu maupun udang vaname masih tetap jadi primadona nasional," ujar Slamet di kantor Bupati Banyuwangi sesuai sosialisasi, Jumat (1/6/2012).

Revitalisasi, lanjutnya, tersebar mulai dari pantai utara pulau Jawa yang mencakup 22 kabupaten di empat provinsi. Di antaranya Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, serta Banten.

Berdasarkan data di 2011, di empat provinsi tersebut luas lahan tambak udang diketahui mencapai 180.884 hektar dengan produksi 400 ribu ton. Sasaran utamanya lahan tambak yang tidak produktif atau mangkrak.

"Strategi revitalisasi meliputi pengembangan sarana prasarana, pembenihan, penguatan kelembagaan, sistem produksi, pengelolaan lingkungan dan pemasaran," tambahnya.

Diharapkan di 2014 nanti target produksi untuk semua jenis udang bisa bertambah menjadi 210.364 ton. Untuk mendukung program tersebut, tahun ini saja pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan mengucurkan anggaran sebesar Rp 59 miliar.

Sementara itu, di Kabupaten Banyuwangi, lahan tambak udang yang mangkrak dan perlu revitalisasi seluas 610 hektar. Jika revitalisasi sukses maka di 2014 nanti produksi udang akan meningkat menjadi 10 ribu ton yang sebelumnya hanya 7.200 ton saja. Selain itu diprediksi bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 21 ribu orang.

Meski demikian para petani meminta pemerintah menjamin kemudahan akses ke perbankan. "Petani kesulitan modal," keluh Muhtarom, salah satu petani.

(dnl/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads