Menurut Menteri Perindustrian MS Hidayat China memiliki keunggulan peraturan yang memberikan insentif pajak sehingga produk-produk dari China dapat dijual dengan murah di Indonesia. Bahkan praktik pungutan liar (Pungli) disana juga sudah lebih tertib.
"Jadi potongan dari 6% sampai 13,5%. Jadi di-reimburse (dikembalikan) makanya dia bisa jualan murah. Dia bisa jual 1% sampai 2% (margin) tapi dapat tambahan dari pemerintah," ungkapnya usai Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi IV, Senin (4/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Disana sudah ada peraturan itu. China (bunga kredit) sebesar 4% sampai 5% Jadi dua hal itu kita sudah give up. Pungli disana juga sudah lebih tertib," imbuhnya
Seperti diketahui neraca perdagangan Indonesia dan Cina pada triwulan I tahun 2012 defisit sebesar US$ 3,89 miliar. Ekspor produk industri dari Indonesia ke China sebesar US$ 2,44 miliar dan nilai impor produk industri dari China ke Indonesia sebesar US$ 6,34 miliar.
Terkait tingginya defisit neraca perdagangan, Hidayat menjelaskan jika Indonesia harus memperkuat sektor produk untuk segmen kelas menengah ke bawah dan juga dapat memasuki segmen produk kelas menengah ke atas sehingga dapat memperkecil defisit perdagangan dengan China.
"China itu kuat di dalam mass produknya tetapi untuk segmen yang middle low. Jadi dibidang itulah kita harus memperkuat daya saingnya. Tapi kalau mengenai high end produk China nggak mau memproduksi. Indonesia bisa unggul di sektor itu," tutupnya.
(feb/hen)











































