"Saya sudah bicara dengan dirut PGN. Mau ada pembicaraan dengan asosasi. Dia sudah sepakat untuk mebicarakan soal kenaikan gas," ungkap Hidayat usai Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi IV, Senin (4/6/2012).
Hidayat mengakui para pengusaha terbelah dua dalam menyikapi kenaikan harga gas. Disisi lain ada yang pro, lalu ada juga yang kontra dengan kenaikan gas sebsar 55% dari US$ 6,7 per MMBTU menjadi US$ 10,2 per MMBTU.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya pihak manajemen PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mengatakan kenaikan harga gas sebesar 55% mulai 1 Mei 2012 merupakan suatu keputusan yang sulit.
Direktur Utama BUMN Gas, Hendi Prio Santoso menegaskan perlu adanya penyesuaian harga gas. Pasalnya disparitas harga yang tinggi antara harga gas di dalam negeri dan luar negeri.
"Kalau dibandingkan dengan kenaikan harga di sektor hulu, di atas 200%. Tahun depan mereka akan naik lagi. Apa yang kami lakukan?" kata Hendi beberapa waktu lalu.
"Yaitu penyesuaian 50% dari tarif. Kita berupaya mencari titik tengah yang baik," paparnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga yang perseroan lakukan memang menimbulkan kontrovesi di kalangan pengusaha. Namun kembali lagi, dia menyoroti masalah disparitas. "Tidak dapat dipungkiri pasti ada yang mengeluh. Ada juga yang mungkin kaget," sambungnya.
(hen/hen)











































