Rumah tempe mendapat pendanaan dari beberapa organisasi seperti Kedutaan Uni Eropa, PT FKS Multiagro, PT ANTAM dan American Soybean Association International Marketing (ASA IM). Rumah Tempe Indonesia ini berhasil dibangun dan diresmikan pada 6 Juni 2012.
"Di tempat ini, tempe tidak lagi diolah menggunakan drum-drum bekas oli, melainkan menggunakan peralatan stainless steel yang berstandar food grade. Bahan bakar yang dipakai juga bukan kayu bakar yang melepaskan karbon dengan jumlah besar ke udara, melainkan memakai gas elpiji yang lebih rendah emisi," kata Documentation Officer SCoPe Indonesia Program Tina ETV Napitupulu dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/6/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemajuan-kemajuan inilah yang akan dijadikan patokan bagi industri tempe Indonesia di masa mendatang," katanya.
Selain memproduksi tempe yang higienis dan ramah lingkungan, Rumah Tempe Indonesia juga akan menjadi pusat belajar bagi pengrajin tempe yang lain, sehingga memungkinkan percepatan adopsi dan replikasi teknologi dan menjadikan industri tempe di Indonesia berdaya saing internasional
Latar belakang dibangunnya rumah tempe ini, karena industri tempe memiliki kontribusi ekonomi yang besar dan merupakan bagian dari budaya pangan Indonesia, namun sedikit perhatian yang diberikan terhadap kondisi industri.
Misalnya kondisi pabrik olahan tempe selama ini penuh asap yang memedihkan mata. Asap yang bersumber dari pembakaran kayu untuk perebusan kedelai telah menyebabkan ruangan produksi yang tidak terlalu luas menjadi panas dan pengap, akibatnya memaksa para pekerja untuk melepaskan pakaiannya, sehingga pengrajin memproduksi tempe dengan bertelanjang dada.
Proses pengolahannya juga mengkhawatirkan, karena seperti untuk perebusan, menggunakan drum bekas oli, yang meskipun sudah dibersihkan namun rentan terhadap karat.
"Industri tempe di Indonesia merupakan industri yang dirajai oleh produsen kecil dan menengah yang jumlahnya sangat besar. Kontribusinya terhadap perekonomian kita, yakni sebesar kurang lebih Rp 700 miliar per tahun tidak dapat dipandang sebelah mata," katanya.
(hen/dnl)











































