Menurut Menteri Perindustrian MS. Hidayat industri alumunium adalah industri terpenting kedua setelah industri besi baja. Tetapi pada saat ini industri aluminum hulu khususnya yang mengolah bahan baku bauksit menjadi alumina belum ada di Indonesia.
"Padahal kebutuhan alumina PT Inalum (perusahaan yang memproduksi aluminium) saat ini mencapai 500.000 ton per tahun. Dan yang jadi masalah seluruhnya harus diimpor. Sementara itu produksi aluminium ingot PT Inalum sebesar 240.000 ton per tahun sebanyak 60%-nya atau 135.000 ton diekspor ke Jepang," ujar Hidayat di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (13/6/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebanyak 135.000 produksi aluminium ingot PT Inalum diekspor ke Jepang, padahal industri hilir aluminium nasional masih membutuhkan aluminim igot sebesar 600.000 ton yang sebagian besar (83%) masih diimpor," ungkapnya.
Sementara saat ini telah terjadi ekspor besar-besaran bijih bauksit khususnya pada 2011 yang mencapai sebesar 40 juta ton, meningkat 5 kali dibanding di 2008.
"Sementara cadangan terbukti bauksit Indonesia adalah sebesar 180 juta ton, sehingga diperkirakan cadangan tersebut akan habis dalam 4-5 tahun ke depan. Apabila tidak dilakukan pengendalikan ekspor bauksit yang akan berakibat tidak tumbuhnya industri aluminium dalam negeri," katanya.
Hidayat juga mengungkapkan negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) berlimpah suatu saat hanya akan menjadi pecundang setelah seluruh SDA-nya diekspor mentah.
"Apakah Indonesia yang memiliki SDA cukup banyak mau menjadi pecundang, dimana sampai saat ini industri pengolahan mineral belum ada, dan produksi mineral dilempar ke negara lain, jika dibiarkan SDA kita habis, kita akan ditinggalkan para investor," tandasnya.
(rrd/dnl)











































