Negara penghasil gandum terbesar di Eropa ini membidik ekspor 2 juta ton gandum ke Indonesia setiap tahunnya.
Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Konsulat Bisnis Rusia untuk Kerjasama dengan Indonesia Mikhail Kouritsyn kepada detikFinance di kantor KBRI Moskow, Selasa (26/6/2012) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kerjasama pemerintah Indonesia dan Rusia, memang salah satu yang dijajaki adalah perdagangan gandum. Industri di Indonesia, khususnya mie instan sangat membutuhkan pasokan gandum yang besar.
Bahkan Indonesia berniat memboyong industri mie instant ke Rusia untuk membuka pabrik yang hasilnya akan dipasarkan di Eropa.
"Rusia juga siap menanam modal untuk infrastruktur pengiriman gandum. Kami akan menyediakan angkutan untuk membawa gandum dari Rusia sampai ke pemakai," jelas Mikhail.
Selain itu, Mikhail menyatakan, Rusia juga berminat untuk mengimpor produk CPO, teh, kopi, serta rempah-rempah. "Yang kami minati produk CPO dalam bentuk RBD olein dan RBD stearin," imbuhnya.
Kemudian, produk buah-buahan kaleng Indonesia juga ternyata sangat diminati Rusia dan permintaannya sangat besar. Karena masyarakat Rusia menyukai buah-buahan tropis yang ada di Indonesia.
Soal rencana investasi, Mikhail menyatakan dalam 10 tahun ke depan pihak Rusia bisa menanamkan investasi kurang lebih US$ 3 miliar dalam berbagai proyek khususnya perdagangan dan logistik seperti sarana kereta api di Kalimantan Timur.
Selama ini hambatan investasi pengusaha Rusia di Indonesia adalah minimnya pengetahuan dan pengalaman dari perusahaan Rusia untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
"Tidak ada hambatan buatan, tapi jelas ada hambatan berbentuk belum adanya pengalaman, dan jalur perbankan. Kemudian, cara berkomunikasi dengan birokrasi di Indonesia," cetusnya.
Di tempat yang sama, Duta Besar RI untuk Rusia Djauhari Oratmangun menyampaikan, minat pengusaha negeri beruang merah untuk berinvestasi di Indonesia sangat besar.
"Investasinya dari mulai kereta api. Tambang, gandum, mie instant, baja, hingga pesawat terbang. Minat sangat besar, mereka sadar karena kita sahabat lama. Ekonomi kedua negara sedang baik-baiknya," tutur Djauhari.
Dia pun terus aktif untuk mendekati para pengusaha Rusia untuk bisa berinvestasi di Indonesia karena peluangnya sangat besar untuk mendorong laju ekonomi di Indonesia.
(dnl/ang)











































