Kalangan industri baja di dalam negeri mengaku mengalami penurunan produksi hingga 20%. Hal ini terkait dampak tertahannya ribuan kontainer yang berisi bahan baku besi tua (scrap) yang diduga tercampur Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Pelabuhan Tanjung Priok.
"Terjadi penurunan kurang lebih 20 % di Q1 ini, kita tahu semua bahwa sampai dengan saat ini ada 7.000 kontainer yang masih tertahan di Pelabuhan," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia Edward S Pinem dalam diskusi di kementerian perindustrian, Jumat (13/7/2012)
Dalam catatan Edward memang pada Q1 (triwulan I) terjadi gangguan yang membuat produksi baja merosot 20 %. Salah satunya penyebabnya adalah penyitaan ribuan kontainer yang berisi scrap bercampur dengan limbah B3.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang harganya naik 100% menjadi US$ 800/ton dibandingkan sebelumnya yang hanya US$ 400/ton," Jelas Edward
Edward merasa gerah terhadap respons pemerintah agar industri baja jangan cengeng. "Jika pemerintah bisa berucap Industri baja jangan cengeng maka pemerintah juga jangan cengeng, jelas jika produksi baja terganggu maka akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia itu sendiri. Industri baja seperti ditelanjangi, sudah susah memasok bahan baku, harga gas juga naik," Jelas Edward.
Edward menjelaskan kenaikan harga scrap yang melambung hingga 100% dan kenaikan harga gas jelas menjadi momok yang menyulitkan bagi industri baja.
"Kenaikan 1 dolar pada gas, maka ada penambahan pada biaya produksi pabrik yang mencapai 3-5 dolar/ton output, itu berarti ada kenaikan ongkos produksi 20 %," pungkas Edward.
(hen/hen)











































