Oleh sebab itu, harga nampaknya tidak menjadi persoalan bagi para peminat keindahan batik Indonesia. Contohnya batik tulis asal Pekalongan ini.
Seorang pengrajin batik, Rizal menuturkan dirinya menjual kain batik tulisnya seharga Rp 15 Juta per lembar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan tanpa alasan, Rizal mematok harga cukup mahal karena tingkat kesulitan dan waktu pengerjaan batik tulis tersebut tak tanggung-tanggung, hingga mencapai 1 tahun.
"Pengerjaannya 1 tahun, jadi misalnya hitung saja, setiap hari perajin diongkosi Rp 25 ribu, dikalikan 1 tahun, itu misalnya," tutur Rizal.
Hebatnya, Rizal menuturkan usaha yang telah dirintis sejak tahun 1980-an ini tidak mengandalkan ekspor, bahkan dia menuturkan barang hasil kerajinannya ini tak pernah satupun diekspor ke negara luar.
"Kita nggak melayani ekspor, tapi turis-turis dari luar negeri sengaja datang ke kita, dari Malaysia, Jepang sengaja dateng ke Pekalongan untuk beli batik kita," tuturnya lagi.
"Kalau tadi di Pameran ini sudah ada yang beli batik Rp 15 Juta ini, ibu-ibu," ungkapnya.
Rizal menuturkan, omzet yang didapat dari usaha ini tak menentu, namun dia menuturkan setiap hari setidaknya ada produk dia yang terjual.
"Kalau keuntungan kita nggak tahu pasti, soalnya nggak tentu, tapi pasti ada saja yang beli," katanya.
Saat ini kain batik yang dijual oleh Rizal hadir di Pameran Industri Batik Indonesia di Kementerian Perindustrian. Terdapat 46 pengrajin batik lain yang berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Pekalongan, Rembang, Yogyakarta, Surakarta, Madura dan daerah lainnya.
(zlf/dru)











































