Thailand Belajar di Jawa, Tapi Gulanya Lebih Bagus dari RI

Thailand Belajar di Jawa, Tapi Gulanya Lebih Bagus dari RI

Angling Adhitya Purbaya - detikFinance
Sabtu, 28 Jul 2012 16:31 WIB
Thailand Belajar di Jawa, Tapi Gulanya Lebih Bagus dari RI
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Pabrik Gula Rendeng Kudus hari ini dikunjungi Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan. Dalam kunjungannnya Gita mengungkapkan bahwa Indonesia harus bisa mengurangi ketergantungan gula impor.

"Nantinya tidak perlu banyak mengimpor karena produktivitas gula di tanah air sudah mulai ditingkatkan," kata Gita di Pabrik Gula Rendeng, Kudus, Sabtu (28/7/2012).

Sebelum mengunjungi pabrik yang berdiri sejak 1840 tersebut, Mendag juga mengatakan, Indonesia sebisa mungkin harus bisa melebihi keberhasilan negara tetangga seperti Thailand dalam produksi gula. Rendemen tebu adalah kadar kandungan gula di dalam batang tebu yang dinyatakan dengan persen.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena Thailand 23 tahun lalu sempat menimba ilmu di Jawa saat ini rendemen gulanya antara 12 persen sampai 14 persen," ungkap Gita.

"Begitu pun dengan Brasil, rendemennya minimum 12 persen," imbuhnya.

Dengan adanya contoh dari dua negara tersebut, Gita berharap Indonesia juga bisa terus meningkatkan rendemen gula bahkan mencapai 15 persen.

"Negara lain saja bisa, kita juga harus mampu meningkatkan rendemen sampai 15 persen agar bisa meningkatkan kesejahteraan," kata Gita.

Meski rendemen gula di Indonesia belum mencapai 15 persen, Kepala Dinas Perindustrian dan Provinsi Jateng Ihwan Sudrajat mengatakan, untuk Jawa Tengah stok gula tidak perlu dikhawatirkan. Karena stok gula saat ini masih 76.000 ton.

"Estimasinya kita naik 5.000 ton dengan rata-rata rendemen 7 persen," imbuh Ihwan.

Sementara itu Administrator Pabrik Gula Rendeng Kudus, Teguh Agung Tri Nugroho menambahkan perlu adanya perbaikan di berbagai hal termasuk mesin produksi guna mendukung swasembada gula.

"Pabrik kamis sudah dilengkapi dengan alat Anlisis Rendemen Individu agar perhitungan rendemen transparan," terangnya.

Meski demikian Teguh menjelaskan, pihaknya masih memiliki beberapa permasalahan salah satu contohnya adalah komposisi varieras tebu yang masih didominasi varietas masak lambat. Namun pemecahan dari permasalahan tersebut sudah diupayakan.

"Kami sudah membuat kesepakatan dengan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia untuk persyaratan tebu masuk," katanya.

(alg/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads