Menteri Perindustrian MS Hidayat protes keras masalah 7.000 kontainer yang berisi scrap (besi tua) tertahan di Bea Cukai Tanjung Priok tak berlarut-larut. Sebagai menteri yang membidangi perindustrian, tertahannya ribuan kontainer scrap sejak Januari 2012 mengganggu industri.
"Jadi saya sudah mulai bersuara keras kalau ini nggak terselesaikan karena ini menyangkut kinerja perindustrian," tegas Hidayat di kantor Kadin, Selasa (31/7/2012)
Seperti diketahui kalangan industri baja di dalam negeri mengaku mengalami penurunan produksi hingga 20%. Hal ini terkait dampak tertahannya ribuan kontainer yang berisi bahan baku besi tua (scrap) yang diduga tercampur Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Pelabuhan Tanjung Priok. Selama ini scrap digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya bea cukai harus menyelesaikan masalah ini. Apalagi temuan scrap yang mengandung B3 hanya telah dibuktikan sebanyak 100 kontainer dan sudah ada tindakan dengan re-ekspor ke negara asal.
"Padahal, yang kena limbah itu cuma 100 sekian (kontainer). Tapi nggak tahu, di bea cukai itu ada satu ketentuan kalau satu terdiri dari misalnya 100 kontainer itu ketentuannya bea cukai. Satu dibuka ternyata ada limbah, yang lain masih bisa dikirim. Krisis itu yang membuat bea cukai tidak bisa menyelesaikan persoalan apalagi menghadapi 7.000 yang sudah terbukti kena 100 sekian dan sudah ditindak, sudah diekspor, importirnya mau kena sanksi," katanya.
(hen/dru)











































