Tidak sedikit orang yang mengatakan tanah air ini yang Gemah Ripah Repeh Lohjinawi. Tetapi apakah ini benar? Kenyataan dilapangan membuktikan bahwa harga-harga semakin tinggi ditengah naiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6,3%.
"Untuk beras sendiri, beras kita harganya 30-40% lebih tinggi dari beras luar negeri," ungkap Dirut PT Alam Makmur Sembada Ayong Suherman saat dihubungi detikFinance, Selasa (7/08/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gudang Bulog sifatnya hanya sementara, harus ada teknologi yang dikembangkan oleh Bulog, jika tidak Bulog Indonesia akan tertinggal dari Bulog dari negara lain," ungkapnya.
Ayun menambahkan jika gudang Bulog tidak segera dilakukan revitalisasi maka dipastikan barang-barang yang diletakan di gudang tersebut akan rusak.
"Bulog Indonesia jangan mau kalah dengan Bulog Singapura atau NTUC. Mereka sudah menerapkan teknologi dan mereka siap bersaing dengan swasta," katanya.
Di Indonesia sendiri konsep timbun masih belum jelas. Semua diartikan secara politik. Ayong menjelaskan jika segala sesuatu di negeri ini dinilai secara politik.
"Dulu saya bisa impor beras tetapi ditutup, kemudian bisa ekspor beras juga ditutup karena saya menampung beras dan gabah di gudang, tetapi pemerintah bilang kalo saya nimbun, terlalu politis," tutupnya.
(dru/dru)











































