PT Makassar Tene Tak Mau Dituding Biang Kerok 'Melubernya' Gula Rafinasi

PT Makassar Tene Tak Mau Dituding Biang Kerok 'Melubernya' Gula Rafinasi

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Selasa, 07 Agu 2012 19:52 WIB
PT Makassar Tene Tak Mau Dituding Biang Kerok Melubernya Gula Rafinasi
Jakarta - Kebutuhan gula di Indonesia saat sangat tinggi. Sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan impor raw sugar atau gula mentah sebagai bahan baku untuk membuat gula rafinasi yang diolah di Indonesia.

Namun gula rafinasi sering dijadikan kambing hitam sebagai penyebab turunnya harga gula nasional. PT Makassar Tene sebagai pabrik gula rafinasi di Indonesia Timur, mengelak jika dituding sebagai penyebab melubernya gula refinasi hingga ke konsumen langsung.

"Pabrikan nggak bisa jual eceran dan nggak ada waktu. Ini sering jadi kambing hitam. Itu ketika harga gula jatuh, gula rafinasi dibilang merembes," ungkap Direktur Makassar Tene, Andreas Vincent Wenas di Hotel Intercontinental Jakarta, Senin (7/8/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gula rafinasi sendiri ditujukan untuk usaha makanan dan minuman hingga UKM serta tidak boleh dijual langsung kepada konsumen retail. Andreas menjelaskan, Indonesia masih membutuhkan gula rafinasi karena saat ini Pabrik Gula (PG) nasional belum mampu memenuhi kebutuhan gula nasional.

"Konteks makro, jadi kita secara nasional Indonesia kekurangan gula. kebutuhan gula nasional sekitar 5,1 juta ton sedangkan pasokan dari PG nasional hanya 2,1 juta," tambahnya.

Andreas menilai produksi gula oleh PG khusunya di Jawa hanya mampu memproduksi sekitar 1,3 juta ton gula namun menurutnya produksi tersebut akan habis hanya untuk memenuhi kebutuhan pulau Jawa.

"Apa yang diproduksi di Jawa hanya habis digunakan di jawa dan tidak bisa digunakan di luar jawa. Di luar jawa seperti Indonesia Timur bagaimana menditribuskan gula?," sebutnya

Guna memenuhi pasokan gula di kawasan Indonesia Timur, Andreas menjelaskan, Makassar Tene memiliki komitmen tinggi menjamin pasokan gula untuk memasok kenutuhan usaha di Indonesia Timur.

"Saat membangun PG di Indonesia timur gak ada yang mau. Terus itu investasinya tinggi sehingga makassar tene yang mau. Itu yang kita gunakan untuk mengamankan pasokan gula khususnya untuk UKM di Indonesia Timur," tutup Andreas.

(hen/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads