"Mereka sudah mengklasifikasikan Indonesia sebagai negara strategis nomor 3 di dunia. Mereka sudah mengambil sikap jangka panjang," kata Gita di kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Selasa (14/8/2012).
Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini mengaku, pimpinan tertinggi kedua di Foxconn telah berkunjung ke Indonesia untuk memastikan rencana bisnis mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gita mengakui, dengan masuknya Foxconn untuk berinvestasi ke Indonesia membuat posisi Indonesia dipandang dunia sebagai negara hi-tech (teknologi tinggi). "Dunia akan menetapkan Indonesia secara posisi tinggi menjadi negara hi-tech," imbuhnya.
Diakui Gita, investasi yang ditanam Foxconn sangat tinggi mencapai Rp 100 triliun. Selain itu, dari investasi yang ditanamkan oleh pabrikan asal Taiwan ini, bisa mempekerjakan banyak tenaga kerja terdidik.
"US$ 5 miliar sampai US$ 10 miliar untuk jangka menengah. Itu sekitar Rp 50 triliun sampai Rp 100 triliun," sambungnya.
Gita juga menjelaskan, ketika Foxconn beroperasi di Indonesia, pabrikan asal Taiwan ini akan menggandeng mitra lokal di Indonesia.
"Mereka sudah bicara dengan INTI, dan akan bicara Telkom serta swasta lainnya seperti Polytron, Cosmos. Itu mitra lokal," tutup Gita.
Sebelumnya, Gita menjelaskan, pembangunan pabrik pada tahap pertama Foxconn akan dilakukan di kawasan industri Cikande, Serang, Banten pada Oktober 2012.
Diakui Gita, pabrikan yang membuat peralatan bertekologi canggih ini bisa menghasilkan iPhone buatan Cikande. "Mereka bisa buat iPhone made in Cikande," tutup Gita.
Seperti diketahui, Foxconn Technology Group adalah perusahaan manufaktur yang berasal dari Taiwan yang memproduksi komponen-komponen elektronik untuk beberapa merek terkenal seperti Apple dan Nokia.
Himpunan Kawasan Industri pernah meminta pemerintah untuk mengalihkan kawasan industri untuk Sillicon Valley agar ditempatkan di luar Pulau Jawa.
Ketua Kehormatan Himpunan Kawasan Industri, Hendra Lesmana mengatakan pemerintah seharusnya juga memperhatikan kawasan industri di wilayah luar Pulau Jawa.
(feb/dnl)











































