Ekspor Produk Furnitur Rotan Melonjak 44%

Ekspor Produk Furnitur Rotan Melonjak 44%

Wiji Nurhayat - detikFinance
Selasa, 02 Okt 2012 18:10 WIB
Ekspor Produk Furnitur Rotan Melonjak 44%
Jakarta - Pasca penutupan kran ekspor bahan baku rotan awal tahun 2012, berdampak positif terhadap kinerja ekspor produk rotan olahan di dalam negeri. Selama 9 bulan pertama terjadi lonjakan ekspor produk olahan rotan hingga 44% lebih karena mendapat pasokan bahan baku yang cukup.

"Mengenai rotan, ekspornya terlihat terus tumbuh dan meningkat," kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh, Selasa (2/10/2012).

Ia mengatakan nilai ekspor produk rotan periode 1 Januari-30 Juni 2012 mencapai lebih dari US$ 112 juta. Angka tersebut diketahui dari hasil Laporan Surveyor (LS).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nilai ekspor rotan yang cukup tinggi tersebut disumbang dari ekspor produk rotan furnitur senilai US$ 85,03 juta, dan anyaman senilai US$ 26,98 juta. Dibandingkan dengan tahun 2011, dalam periode yang sama, nilai ekspor rotan Indonesia mencapai US$ 97,24 juta atau telah terjadi peningkatan sebesar 15,31%.

"Saat ini (sampai bulan September 2012) ekspor barang jadi rotan itu masih meningkat, periode Januari-September 2012 sebesar US$ 187 juta bila dibandingkan 2011 hanya US$ 108,96 juta, jadi ada peningkatan 44,81%," tuturnya.

Indonesia merupakan salah satu penghasil bahan baku rotan terbesar di dunia. Hilirisasi pada industri rotan membuat nilai tambah yang semakin besar. "Ada penambahan atau kenaikan 19,81% dari nilai tambah dibandingkan tahun 2011," katanya.

Berdasarkan data statistik Kementerian Perdagangan, terdapat lima negara maju paling berminat terhadap produk rotan Indonesia, yakni, Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman, dan Belanda. Indonesia merupakan pangsa pasar ke-2 terbesar di dunia untuk ekspor produk rotan.

"Mengenai rotan ekspornya terlihat terus meningkat. Misalnya ke Jepang naik dengan porsinya 17,7%, sedangkan ke Amerika dan Eropa itu masih mengalami peningkatan meski relatif kecil karena belum pulih dari krisis," tutupnya.

(wij/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads