RI Belum Bisa Lepas dari 'Penyakit' Impor

RI Belum Bisa Lepas dari 'Penyakit' Impor

- detikFinance
Rabu, 03 Okt 2012 11:50 WIB
RI Belum Bisa Lepas dari Penyakit Impor
Foto: Dok. detikFinance
Jakarta - Nilai impor Indonesia masih besar dan sulit untuk ditekan seiring dengan pertumbuhan industri. Sebab, sampai saat ini industri di Indonesia masih ketergantungan terhadap impor bahan baku.

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi dalam acara Food Ingredients Asia di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (3/10/2012).

"Ketergantungan kita terhadap bahan baku masih cukup besar untuk bagian-bagian tertentu," kata Benny.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut catatan Benny, Indonesia masih ketergantungan bahan baku impor seperti gandum, gula, dan kedelai. Di 2011 lalu, impor gandum mencapai 5,6 juta ton, gula 2,7 juta ton, dan kedelai 2 juta ton.

"Ada lagi, kita masih mengimpor lebih dari 70% bahan baku untuk industri pengolahan susu," katanya.

Perkembangan industri makanan dan minuman ke depan masih mempunyai prospek yang baik, khususnya untuk pasar domestik Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 230 juta orang dengan pendapatan per kapita US$ 3.500 menjadi pasar besar untuk industri ini.

"Kebutuhan kita akan produk makanan dan minuman cukup besar, kebutuhan BTP kita masih impor 30%," tukasnya.

BTP adalah Bahan Tambahan Pangan, mulai dari pewarna, pemanis buatan, pengawet rasa dan aroma, serta pemutih. Industri dalam negeri sampai tahun ini masih mengimpor dari negara Eropa, Amerika, dan China.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads