Seorang distributor air kemasan galon di kawasan Gondangdia Jakarta usat, Kus mengungkapkan akibat musim kemarau ini ia kurang mendapat pasokan air kemasan dari pabrik. Alhasil, pendistribusian produk ini ke agen pun menyusut.
"Kita kan distributor, sekarang susah stok di gudang yang masuk ke kita udah nggak begitu banyak. Per hari datang cuma 3 truk fuso, biasanya bisa 7 sampai 8.Tadinya dikirim ke toko (agen) biasanya bisa sampai 3 kali ngirim per hari. Sekarang cuma 1 kali, biar kebagi rata semua," kata Kus kepada detikFinance di Gondangdia, Jakarta Pusat, Jumat (5/10/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu secara terpisah, agen penjual air kemasan di Gondangdia, Lili mengatakan pasca lebaran air kemasan sulit ditemui. Pasokan berkurang dikarenakan kemarau.
"Udah dari Lebaran ini, nggak tahu sampai kapan, si distributornya ditanya jawabnya susah-susah melulu. Alasannya mobil mogok, supirnya sakit," katanya.
Akibat pasokan yang kurang, permintaan untuk air kemasan ini pun meningkat. "Kita dikirim setiap hari 200-an galon, belum sore juga udah abis lagi," lanjutnya.
Di tempat lain, penjual air minum kemasan eceran di Mampang Jakarta Selatan, Ikbal mengatakan sudah beberapa hari ini tidak bisa menjual air minum kemasan galon karena langka.
"Kalau kita kan pedagang yang kecil, jadi keabisan terus. Agen ngasihnya ke toko-toko yang gede," keluh Ikbal.
Sebelumnya Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) memperkirakan hingga akhir Oktober, air minum atau mineral kemasan khususnya air galon di wilayah Jabodetabek akan sulit didapatkan. Produsen air minum belum bisa memenuhi stok akibat distribusi yang belum stabil.
"Hingga akhir bulan, AMDK masih akan sulit didapatkan khususnya di wilayah Jabodetabek," kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Hendro Baroeno.
Penyebabnya, kata Hendro, belum bisa terpenuhinya stok air mineral oleh produsen dikarenakan belum stabilnya distribusi, akibat adanya peralihan distribusi pada Hari Raya Idul Fitri.
"Distribusi pengiriman AMDK di wilayah Jabodetabek belum normal, ini akibat adanya peralihan konsumsi di Jabodetabek sebesar 39% dari konsumsi nasional AMDK ke Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat adanya budaya mudik lebaran," ungkapnya.
(zlf/hen)










































