Direktur Utama RNI, Ismed Hasan Putro menjelaskan, ia akan merubah orientasi bisnis MRB agar lebih meningkatkan produksi alat kesehatan dibanding kondom yang selama ini menjadi core bisnisnya.
"MRB itu ke depan kita akan merger dengan Rajawali Phapros, jadi size bisnisnya untuk kondom kita perkecil, jadi kita akan perbesar alat kesehatannya. Jadi jarum suntik, alat penutup mulut, pakaian kesehatan itu yang akan kita perbesar," ungkap Ismed saat ditemui usai RDP dengan Komisi IV DPR RI, di Jakarta, Senin (8/10/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ke depan MRB bukan lagi menjadi PT, dia akan menjadi unit bisnis dari Phapros dan bukan lagi di holding tapi akan dinaungi Phapros, dan kondom bukan lagi menjadi bisnis utamanya. Dia akan bergeser menjadi alkes (alat kesehatan)," paparnya.
Dengan demikian, lanjut Ismed, kapasitas produksi kondom dari MRB yakni 900.000 gross/tahun akan diturunkan.
Seperti diketahui selama ini pangsa pasar kondom yang bermerk Artika dan Meong ini tak mampu menembus pasar dalam negeri dengan baik. Pasarnya masih mengandalkan pesanan dari BKKBN yaitu 450.000 gross/tahun.
"Kalau tidak ada pesanan dari BKKBN kan reguler, kalau reguler daya penetrasi kami ke pasar kan lemah, tidak sampai 10%. Nah kita turunkan saja. Mungkin hanya 10-20% dari 900 ribu gross tadi. Mungkin hanya sekitar 100 ribu kalau tidak ada pesanan dari BKKBN," tandasnya.
(zlf/hen)











































