Apresiasi riil mata uang Rupiah, naiknya biaya satuan tenaga kerja, pergeseran ke arah sektor komoditas dan resource intensive, kuatnya kompetisi internasional (terutama dari Cina), serta mengecilnya keuntungan, semua faktor tersebut telah membuat sektor manufaktur Indonesia menjadi kurang bersaing dibanding negara tetangga di kawasan.
"Tantangan-tantangan utama pada tingkat mikro bagi perusahaan Indonesia adalah tingginya biaya transportasi dan logistik, sulitnya memperoleh kredit, serta kurangnya transparansi dan kepastian regulasi. Hal-hal tersebut menghambat tumbuhnya usaha-usaha baru, serta mencegah manufaktur yang sudah ada untuk dapat berkembang dan menikmati skala ekonomis," jelas Bank Dunia dalam penjelasannya seperti dikutip detikFinance, Minggu (14/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun berbagai tantangan di atas, sektor manufaktur di Indonesia mulai bangkit kembali. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan tumbuh dengan cepat dan data investasi terakhir menunjukkan bahwa pertumbuhan semakin cepat. Pada saat yang sama, pertumbuhan kelas menengah di Indonesia dan adanya tenaga kerja yang bersaing semakin menarik investor asing ke sektor ini," demikian jelas Bank Dunia.
Untuk mengatasi tantangan ekonomi makro dan mikro, perlu beberapa kebijakan untuk meningkatkan daya saing biaya dan mengurangi opportunity cost investasi. Bank Dunia menilai kebijakan untuk meningkatkan daya saing value based dalam bidang manufaktur juga diperlukan untuk meningkatkan dan mempertahankan pertumbuhan.
Berikut solusi dari Bank Dunia untuk mendorong industri manufaktur RI:
- Mempermudah perusahaan kecil untuk tumbuh dan mengisi 'lapisan menengah yang hilang', serta keluarnya perusahaan-perusahaan yang tidak efisien
- Mempermudah perusahaan-perusahaan non-ekspor menjadi eksportir dan mempermudah perusahaan pengekspor memperluas pangsa pasar di luar negeri, terutama dengan mengatasi masalah transportasi dan logistik, serta mengurangi hambatan non-tarif ke pasar di luar negeri (misal, dengan mempromosikan standar internasional dan memperbaiki rezim standar)
- Membantu perusahaan menjadi semakin bernilai. Misalnya melalui investasi yang lebih besar untuk pendidikan, keterampilan pekerja dan teknologi, juga kerjasama yang lebih erat antara perusahaan dengan institusi pendidikan; dan
- Meningkatkan efisiensi pasar secara menyeluruh dengan mendorong persaingan yang sehat dan keterbukaan ekonomi.
"Merevitalisasi sektor manufaktur juga memerlukan koordinasi antar lembaga pemerintah dan pemerintah daerah. Sektor swasta juga perlu dilibatkan dalam diskusi-diskusi kebijakan, dan masukan mereka perlu disimpan dan dipertimbangkan melalui mekanisme dialog yang baik," tutup Bank Dunia.
(dru/nia)










































