Akhirnya, AirAsia siap untuk menambah armada pesawatnya guna memenuhi persyaratan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
"Memang tidak jadi mengakuisisi, tapi kami melakukan kerja sama dalam bentuk yang lain," kata Presiden Direktur AirAsia Indonesia, Dharmadi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Armada diperlukan untuk mengakomodasi pertumbuhan penumpang dengan rata-rata sebesar 24% untuk pasar domestik dan 28% untuk pasar internasional. "Kami akan terus memperkuat jaringan kami dengan menambah lebih banyak stasiun penghubung (hub) dan mengembangkan layanan kami ke bagian timur Indonesia," tuturnya.
Dalam usaha untuk terus menjadi yang terdepan, AirAsia Indonesia juga akan meningkatkan sistem distribusi dan penjualan, menyediakan layanan yang berbeda sekaligus mengimplementasikan strategi harga yang dinamis.
Sebelumnya Direktur Komersial Batavia Air Sukirno Sukarno telah memastikan transaksi pembelian saham Batavia batal karena tidak adanya kesepahaman.
Di Juli 2012, AirAsia dan Batavia Air memang menyepakati rencana pembelian tahap awal 76,95% saham maskapai penerbangan lokal Batavia Air senilai US$ 80 juta atau sekitar Rp 720 miliar. Uang tersebut didapat dari kas langsung AirAsia, dan tidak ada yang berasal dari utang. Awalnya, akuisisi Batavia Air memang jadi 'jalan pintas' AirAsia untuk memenuhi kebutuhan pesawat yang ditetapkan Kemenhub.
(wep/dru)










































