Hal ini diungkapkan oleh salah satu orang yang bergelut di industri furniture, Adlin kepada detikFinance saat ditemui di acara Grand Furniture 2012 di Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta, Jumat (19/10/12).
"Kalau lokal biasanya lebih awet dan punya gaya sendiri," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kebanyakan orang lebih ke gengsi. Kenapa mereka bisa pakai Da Vinci atau apa karena harganya bisa gila-gilaan," tambahnya.
Dengan demikian, dia mengaku tidak takut usahanya tergerus geliat barang-barang impor yang membanjiri pasar. Karena menurutnya, pasar untuk furnitur lokal masih sangat cerah.
"Kalau identiknya dengan selera kaya gini (lokal) orang pasti nyari. Lokal itu lebih etnik, kalau impor itu kesannya minimalis, moderen. Dan juga kita nggak takut, karena sudah banyak customer yang loyal," cetusnya.
(zlf/dru)











































