Hal ini dikatakan oleh Dirjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sudirman Saad di Restoran Al Jazeera, Cikini Jakarta Pusat, Jumat (19/10/12).
"Yang pertama tentu saja bagaimana mengolah surplus garam ini supaya memenuhi garam industri. Ini akan menjadi cadangan garam kita mulai Januari tahun depan, karena produksi akan berakhir bulan November," ungkap Sudirman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha Usaha Kementerian Kelautan dan Perikanan, Anshory Anwar mengungkapkan, teknologi ini bisa menutup kekurangan garam industri yang selama ini masih diimpor. Saat ini, baru beberapa tempat yang memiliki teknologi ini.
"Kita ingin mengembangkan garam industri, karena masih menggunakan 1,8 juta ton yang belum sama sekali di produksi oleh kita. Di Cirebon sudah ada, Surabaya juga," katanya.
Untuk 1 unit mesin teknologi ini, pemerintah harus merogoh kocek yang tidak terlalu mahal, hanya Rp 50 juta. Dan nantinya, selain Cirebon dan Surabaya, di tahun 2013 teknologi ini akan tersebar di seluruh pelosok produsen garam.
"Ini kita akan mengembangkan di beberapa tempat di 2013. Indramayu, Pati, Rembang, Pamekasan, Sumenep, Bangkalan kita coba, sedang kita kaji karena ini menyangkut konsolidasi lahan," jelasnya.
Saat ini, Indonesia belum mampu memproduksi garam industri dan masih harus mengimpor sebanyak 1,8 juta ton. Garam indsutri ini banyak digunakan untuk industri tekstil hingga pengeboran minyak.
"Mulai dari pengeboran minyak, farmasi, kertas itu paling banyak," pungkasnya.
(zul/hen)











































