Ketua Umum Asosiasi Budidaya Mutiara (Asbumi) Anthony Tanios mengatakan, turunnya harga mutiara asal Indonesia di pasar dunia karena meredupnya permintaan mutiara yang sebagian besar datang dari negara-negara Eropa.
"Ada dampak krisis di Eropa, kita mengharapakan nggak ada dampaknya. Tahun ini kami mengalami penurunan harga, mudah-mudahan tahun depan bisa membaik pasar kita ke Eropa," tutur Anthony dalam acara Indonesian Pearls Festival II di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (1/11/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saingan dengan Australia, dia pakai sea food alam, kalau sekarang (mutiara Indonesia) di-breeding (budidaya air laut)," tambahnya.
Namun, Anthony mengaku, ekspor Mutiara Indonesia tertolong oleh naiknya permintaan mutiara dari negara-negara Asia seperti India dan China.
"Ekspor, selama ini melalui Hong Kong, Jepang, Eropa. Amerika nggak. Hong Kong dulu baru ke Amerika. Kami ditolong membaiknya Asia, kami jual ke China, India," pungkasnya.
Di tempat yang sama, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) KKP Saut Parulian Hutagalung menjelaskan, turunnya harga mutiara Indonesia adalah karena dipengaruhi arga mutiara air tawar impor yang berharga murah dan berkualitas rendah.
"Harga turun karena mutiara tawar membludak di mana-dimana yang murah, justru di Mataram sumber mutiara laut banyak mutiara tawar. Mutiara tawar dari luar harga murah," pungkasnya.
(feb/dnl)











































