"Kami menginginkan keadaan Indonesia yang kondusif agar kami bisa beroperasi kembali dengan tenang dan para pekerja bisa bekerja dengan baik," ujar Direktur Pusat Inovasi Sepatu PT Sepatu Bata Tbk (BATA), Fabio Bellini saat konferensi pers di Gedung Apindo Jakarta, Rabu (6/11/2012).
Menurut Fabio perseroan tidak punya opsi untuk melakukan produksi karena pabrik dalam keadaan tertutup. Maka dari itu, perseroan akan mencari jalan keluar yang menguntungkan antara manajemen dengan para buruh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghentian produksi sementara ini sudah dimulai sejak 18 Oktober 2012 dengan total potensi kehilangan pendapatan sebesar US$ 700 ribu (Rp 6,65 Miliar). Ia mengatakan, sampai saat ini, manajemen masih berusaha berunding dengan pihak Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
"Kita mulai proses ingin menaikin karyawan tetap, tetapi mereka malah ancam. Pabrik kita terus tutup, kita mau kerja disini. Kita bisa cabut kapan aja. Kita mau bicara pada buruh sekarang," tandasnya.
Bata memperpanjang penutupan pabriknya sampai 16 Desember 2012 gara-gara didemo oleh buruh sehingga situasi tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan produksi.
"Oleh karena kondisi di pabrik pada tanggal 2 November 2012 tidak kondusif maka pemberhentian kegiatan produksi diperpanjang sampai dengan 16 November 2012," kata Direktur Sepatu Bata Ricardo Lumalessil dalam keterangan tertulis di situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (7/11/2012).
Menurutnya, pabrik Bata tidak akan beroperasi selama keadaan belum kondusif. Manajemen mengaku akan terus memantau keadaan lebih lanjut sebelum memutuskan untuk kembali produksi.
Seperti diketahui, dengan adanya aksi pendemo memblokir akses keluar masuk pabrik Bata, maka pabrik tidak bisa mengirimkan barang keluar. Atas situasi itu, manajemen memutuskan bahwa keadaan ini masuk dalam kategori force majeure.
Sebelumnya Bata dikabarkan akan relokasi dari Indonesia. Pabrik tersebut sudah tak produksi hampir 4 minggu karena didemo buruh soal outsourcing. Mereka pun sudah tidak menggaji pekerjanya selama 2 minggu lebih.
(wij/hen)










































