Ketua Asosiasi Eksportir, Produk Gandum, Kacang-Kacangan dan Minyak Sayur Turki Turgay Unlu mengatakan terigu sudah menjadi makanan pokok kedua bagi masyarakat Indonesia sesudah beras.
"Permintaan masyarakat kelas menengah terhadap terigu dan produk turunannya di Indonesia terus meningkat, diperkirakan tahun ini konsumsi terigu Indonesia meningkat 5-6 juta ton. Bila BMTPS diterapkan, harga terigu di pasar nasional diperkirakan akan naik, dan masyarakat terutama pengusaha makanan kecil dan menengahlah yang paling dirugikan," kata Unlu dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/11/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami merasa tidak ada alasan yang tepat untuk memberlakukan BMTPS sebesar 20% terhadap tepung gandum kami yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia," katanya.
Menurutnya kenaikan harga tepung terigu di pasar Indonesia tidak terhindarkan, karena harga gandum di pasar Internasional terus naik. Berdasarkan data, pada 2011 harga gandum di pasar Internasional sudah naik 41 % dibanding 2010, sedangkan pada September 2012, harga gandum sudah naik 30 persen dalam waktu tiga bulan.
"Upaya untuk mengurangi atau menghentikan impor akan membuat masyarakat Indonesia kesulitan mendapatkan harga terbaik dan produk berkualitas. Memberikan tambahan berupa bea masuk safeguard pada produk tepung akan berpengaruh kepada stabilitas kemananan pangan masyarakat Indonesia bila suatu saat terjadi krisis pangan global seperti yang dialami dunia pada tahun 2007-2008 dan 2010-2011," katanya.
Menimbang fakta bahwa Indonesia secara geografis tidak cocok untuk penanaman gandum karena gandum tidak bisa tumbuh di iklim tropis, sedangkan produk berbahan dasar gandum seperti mie sangat banyak dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat Indonesia.
"Kami berharap pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan keamanan pangan mereka dan sebaiknya tidak menutup pintu untuk impor tepung terigu. Ini adalah masalah kepentingan publik," ujar Unlu.
(hen/wep)











































