Indonesia Masih Butuh Lowongan 5.000 Orang Teknisi Pesawat

Indonesia Masih Butuh Lowongan 5.000 Orang Teknisi Pesawat

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 22 Nov 2012 10:59 WIB
Indonesia Masih Butuh Lowongan 5.000 Orang Teknisi Pesawat
Jakarta - Kapasitas dan kapabilitas perusahaan perawatan pesawat atau Maintenance Repair and Overhaul (MRO) di Indonesia masih sangat terbatas. Perusahaan perawatan pesawat dalam negeri hanya melayani 30-40% pasar, sisanya 70% ditangani di luar negeri.

Wakil Menteri Perhubungaan Bambang Susantono mengatakan pada tahun 2011, biaya perawatan pesawat milik maskapai penerbangan nasional sebesar US$ 850 juta atau sekitar Rp 8 triliun.

Dengan hanya mampu menyerap sekitar 30 persen dari pangsa pasar yang tersedia berarti hanya sekitar US$ 260 juta atau Rp 2,5 triliun yang dinikmati oleh MRO dalam negeri. Dari jumlah tersebut sekitar 70 persennya diserap oleh PT GMF AeroAsia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan sinergi yang solid dan penambahan kapasitas eksisting dua kali lipat, dalam 5 tahun ke depan, MRO nasional. Diharapkan dapat menyerap sekitar 50-60% dari pasar perawatan pesawat nasional," kata Wakil Menteri Perhubungaan Bambang Susantono dikutip dari situs Kemenhub, Kamis (22/11/12)

Ia mengatakan untuk bisa menyerap sekitar 50-60 persen dari pasar perawatan pesawat nasional dalam 5 tahun ke depan, maka paling tidak tambahan jumlah teknisi perawatan pesawat sebanyak 5.000 orang. Saat ini jumlah teknisi dan tenaga ahli pendukung perawatan pesawat baru sekitar 3.000 orang.

Bambang menambahkan saat ini nilai pasar perawatan pesawat komersial di dunia telah mencapai US$ 40,1 miliar dan angka ini terus berkembang. Pasar ini bertumbuh. 3,6% dan pada tahun 2016 diharapkan mencapai US$ 58 miliar. Dua per tiga dari pasar MRO saat ini dikuasai oleh Amerika Utara dan Eropa Barat.

Namun demikian dalam 20 tahun mendatang, pusat armada pesawat udara dunia akan bergeser ke wilayah Asia Pasifik. Pada saat itu diproyeksikan 40% dari lalu lintas udara akan berasal dari Asia Pasifik. Perkembangan pasar MRO terpesat diprediksi akan terjadi di Asia, dengan pertumbuhan senilai lebih dari US$ 5,6 miliar.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads