Pemerintah Harus 'Membuka Mata' Soal Daging

Pemerintah Harus 'Membuka Mata' Soal Daging

Wiji Nurhayat - detikFinance
Minggu, 25 Nov 2012 10:54 WIB
Pemerintah Harus Membuka Mata Soal Daging
Jakarta - Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo) menanggapi kisruh harga daging saat ini. Melalui Wakil Sekjen Aprindo, Satria Hamid mengatakan pemerintah harus membuka mata serta merubah arah kebijakan terkait impor daging.

"Pemerintah harus segera membuka mata terkait harga dan pasokan daging saat ini. Bahkan untuk sisi regulasi impor daging," kata Satria saat diwawancarai detikFinance, Minggu (25/11/2012).

Pemerintah tahun ini secara drastis mengurangi pasokan daging impor. Tahun 2011 pemerintah membuka 100 ribu ton daging sapi impor sedangkan 2012 hanya membuka 34 ribu ton dengan asumsi sisanya bisa dicukupi melalui daging sapi lokal.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebijakan dan regulasi pemerintah ini dinilai keliru oleh Satria. Satria mengaku efek dari regulasi ini sudah dirasakan oleh para pelaku perusaha retail.

"Pasokan daging berkurang 50% sehingga terjadi kenaikan harga daging hingga 50-60% . Daging dengan mutu lokal kurang memenuhi kriteria para konsumen retail kebanyakan," tuturnya.

Tahun 2012 ini, Satria mengaku permintaan daging para pelaku retail mencapai 13.200 ton daging. Kuota itu terbagi menjadi dua yaitu 6.500 ton daging untuk supermarket dan 6.700 ton daging untuk hypermarket.

Saat ini pun suplier juga melakukan pengurangan distribusi 50%. Biasanya per hari suplyer bisa mengirim 35,2 ton daging tetapi saat ini hanya 17,6 ton daging. Tahun 2013 Satria memperkirakan ada lonjakan permintaan daging oleh para pelaku retail.

"Tahun 2013 permintaan daging naik hingga 30% asumsi kami menjadi 16.500 ton daging (8.450 ton daging untuk hypermarket dan 8.150 ton daging untuk supermarket). Wajar karena retail akan menambah toko," tandasnya.

Berikut harga daging sapi retail yang meningkat 50-60% :

Daging Rawon : Rp 81.500/Kg,
Daging Rendang : Rp 170.000/Kg,
Daging Semur : Rp 90.000-100.000/Kg

(wij/dru)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads