Head of Marketing PT Ultrajaya Milk Industry Tbk Siska Suryawan mengatakan masyarakat Indonesia lebih memilih produk premium susu Ultra milk, karena daya beli yang meningkat.
"Market susu bantal juga menurun. Konsumen memiliki daya beli yang meningkat. Padahal Ultra Milk itu produk premium tapi banyak yang beli," katanya di Pabrik Produksi Ultrajaya di Bandung, Rabu (5/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Susu sehat kami masih ada untuk low segmen. Hanya dibawah 10% kami produksi," tuturnya.
Perusahaannya saat ini lebih mengkedepankan ekspansi produksi susu Ultra Milk dengan teknologi UHT yang digemari masyarakat Indonesia. "Konsumen merasa nggak ada nilai tambah dan mereka lebih tertarik susu Ultra Milk. Konsumen memiliki daya beli yang meningkat," cetusnya.
Di tempat yang sama, Presiden Direktur PT Ultrajaya Milk Industry Tbk Sabana Prawirawidjaja mengomentari soal susahnya masyarakat Indonesia menemukan produk susu bantal berlabel Ultrajaya.
Sabana mempersoalkan kapasitas mesin yang belum maksimal dan Tetra Pak belum menyediakan mesin dengan tingkat produktivitas cepat dan banyak seperti produk susu Ultra Milk.
"Cuma kami keterbatasan di mesin. Tetra Pak belum memaksimalkan dengan mesinnya pencetak susu bantal. Kami ingin mesin yang melakukan ini. Jangan sampai dengan tangan manusia takut ada bakteri masuk," jelas Sabana.
(wij/hen)











































