Hal tersebut dikemukakan Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir di acara Diskusi Forum Wartawan Industri mengenai Prospek Industri Petrokimia di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (14/12/2012).
"Saat ini kita hanya suplai sekitar 10% dari kebutuhan nasional, di 2017 kita jumpa target kuasai 30% dari pasar petrokimia, dan 2025 kita targetkan 70-80%," ungkap Ali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang memulai industri Petrokimia di Indonesia adalah Pertamina pada tahun 1970-an, kita ingin 2012 ini bertepatan dengan HUT ke-55 Pertamina, kita canangkan kembali kebangkitan kedua. kita punya jaringan kilang di seluruh indo, di posisi-posisi strategis, di sentra-sentra ekonomi Indonesia. Di Balikpapan, Tuban, Irina, dan lain-lain. Semua infrastruktur sudah tersedia," paparnya.
"Ini bukan mimpi kosong atau ilusi karena kita sudah punya klaster-klaster yang sudah ada. Pertamina ingin gunakan salah satu kekuatan untuk kembali tampil jadi pemimpin industri petrokimia di tahun mendatang," imbuhnya.
Ali mengatakan, saat ini kebutuhan bahan baku berbasis petrokomia dalam negeri masih sangat besar. Untuk menutupi kebutuhan tersebut, impor harus dilakukan.
"Sebagian besar permintaan produk petrokimia itu belum dapat diproduksi dalam negeri. Kita impor produk polyolephin itu pada tahun 2010 (sebesar) 800 ribu ton, ini sama dengan 2 pabrik besar," katanya.
(zlf/dnl)











































