Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi saat dihubungi detikFinance, Selasa (8/1/2013).
"Itu bentuk survival mereka, daripada mereka pindah ke luar negeri lebih baik mereka ke daerah-daerah seperti Jateng, Jatim daripada ke luar negeri," kata Sofjan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka melakukan itu agar masih bisa hidup. Gimana kalau mereka udah nggak bisa hidup, terlebih kenaikkan TDL (tarif dasar listrik) dan lain-lain. Biar mereka bisa dagang lagi, biar nggak jadi importir," tegas Sofjan.
Seperti diketahui, Pengusaha tekstil dan garmen di Kota Tangerang memilih merelokasi pabriknya ke wilayah-wilayah dengan Upah Minimum Provinsi/Kabupaten (UMP/UMK) rendah.
Mereka lebih memilih wilayah yang UMK-nya sekitar Rp 800.000-an daripada harus membayar UMP Rp 2,2 juta di Kota/Kabupaten Tangerang.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengungkapkan sejumlah lahan telah disiapkan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Lahan tersebut diperuntukkan untuk perusahaan tekstil dan garmen.
"Kita sudah mempersiapkan untuk garmen di Jawa Tengah (Boyolali) 300 hektar, dan untuk tekstil di majalengka 800 hektar," ungkap Ade saat ditemui di kantor Sekretariat API, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (8/1/2013).
(zul/hen)











































