Salah satu parameter gula berkualitas premium yang dimaksud dalam hal ini adalah gula dengan kadar keputihan menurut skala ICUMSA (International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis) di bawah 100.
ICUMSA adalah standar kelas mutu (grade) warna gula yang ditentukan lewat satuan IU atau International Unit. Interval ICUMSA gula mulai 45-4600 IU. Semakin rendah ICUMSA, warna gula semakin cerah dan umumnya mutu gula tersebut semakin bagus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βKami akan menggunakan teknologi sulfitasi untuk memproduksi gula premium. Investasi untuk tiap pabrik gula berkisar Rp 5 miliar dengan penambahan alat juice smoothing,β ujar Subiyono dalam siaran pers, Rabu (9/1/2013).
Subiyono menuturkan, alat juice smoothing tersebut digunakan untuk memurnikan nira dan bertujuan akhir untuk meningkatkan efisiensi pemurnian.
Ia menambahkan, teknologi sulfitasi yang akan digunakan lebih murah dari teknologi karbonatasi yang investasinya mencapai Rp 25 miliar untuk tiap PG. Beberapa produsen gula dengan kualitas bagus yang ada di Indonesia saat ini masih menggunakan teknologi karbonatasi.
βKami berinovasi dan ingin membuktikan bahwa dengan teknologi sulfitasi yang lebih murah bisa juga menghasilkan gula premium dengan kualitas baik. Produksi gula premium ini juga adalah salah satu wujud perubahan pendekatan kita, dari yang semula hanya pendekatan produksi menjadi berorientasi ke pendekatan konsumen dengan jalan meningkatkan produksi gula,β kata pria yang juga Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) tersebut.
Perubahan orientasi pendekatan produksi ke pendekatan konsumen juga ditunjukkan lewat pelaksanaan program-programyang memberi nilai tambah bagi pelanggan, seperti Customer Gathering dan Loyalty Award di mana PTPN X memberikan apresiasi bagi perusahaan-perusahaan yang selama ini telah menjadi pelanggan setia.
Selama ini PTPN X menjual gula dan tetes melalui lelang terbuka yang diikuti perusahaan-perusahaan. Menurut Subiyono, relasi yang sinergis dengan pembeli harus terus dibina. Dunia bisnis menuntut adanya kepercayaan yang tinggi antara produsen dan pelanggannya.
βJika di antara produsen dan pelanggannya ada trust, tentu hubungan bisnis ini bisa terbina dengan baik dan bersifat jangka panjang. Langkah ini penting untuk menjaga kontinuitas bisnis perusahaan,β tutur Subiyono.
Tahun 2012 lalu, PTPN X memproduksi 494.000 ton gula, meningkat dibanding 2011 yang tercatat sebesar 447.000 ton. Dari capaian itu, PTPN X menjadi produsen gula terbesar di Indonesia, mengungguli BUMN dan perusahaan swasta pergulaan.
Adapun produksi tetes tebu (molases) pada 2012 mencapai 367.046 ton, meningkat dibanding produksi 2011 sebesar 310.167 ton. Tetes tebu tersebut dijual untuk diolah kembali sebagai bahan baku sejumlah produk, seperti penyedap makanan.
Pendapatan PTPN X dari penjualan produk-produknya pada 2012 menembus angka Rp 2,107 triliun. Kinerja positif dalam hal penjualan tersebut meningkatkan laba PTPN X sekitar 200 persen dari Rp 210,8 miliar pada 2011 menjadi Rp 417 miliar (sebelum pajak) pada 2012.
Produk turunan tebu seperti gula dan tetes mendominasi struktur laba perseroan sekitar 90 persen. Sisanya baru disumbang oleh bisnis tembakau dan jasa pelayanan kesehatan (rumah sakit).
Seperti diketahui, PTPN X mempunyai tiga bisnis utama, yaitu produk turunan tebu seperti gula dan tetes, bisnis tembakau, dan rumah sakit.
PTPN X juga mempunyai anak usaha PT Dasaplast Nusantara yang memproduksi karung plastik, inner bag, dan waring. Perseroan juga memiliki penyertaan saham di PT Mitratani Duatujuh yang memproduksi kedelai berkualitas ekspor.
(ang/ang)











































