Apa tanggapan pihak kementerian perindustrian (Kemenperin) sebagai lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam masalah ini?
Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kemenperin Budi Darmadi mengatakan, salah satu faktor penting tersebut ialah Indonesia kurang entrepreneur atau pengusaha di bidang ini. Entrepreneur disini menurut Budi mencakup beberapa aspek, diantaranya modal dan keterampilan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Budi, tidak sedikit modal untuk menjalankan sebuah bisnis otomotif. Setidaknya untuk membangun sebuah pabrik baru dibutuhkan dana sekitar Rp 1 triliun, dan dalam 7-8 tahun sekali perlu dilakukan perubahan model baru.
"Industri otomotif ini perlu model baru setiap 7-8 tahun sekali, dan itu dananya hingga Rp 800 miliar," lanjut Budi.
Budi mengatakan, dalam hal ini banyak industri dalam negeri khususnya industri mobil nasional yang terkendala. Bukan hanya terbentur akan modal, namun juga kebanyakan dari industri tersebut tidak berani untuk melanjutkan usahanya karena takut kalah bersaing dengan industri otomotif asing yang telah berjalan.
"Mereka (mobnas) kalau saya tanya bilangnya belum berani. Karena harus tahu medannya dulu, kalau otomotif kan mereka (otomotif asing) sudah mulai lebih dulu," katanya.
"Untuk ganti model aja Rp 800 miliar, nah apakah uang ini akan kembali?," katanya.
Namun, saat ini, sudah ada beberapa pelaku industri dengan entrepreneur yang tangguh. Budi pun mengaku pemerintah sudah banyak memberikan bantuan untuk menggerakan industri ini.
(zlf/hen)










































