Dana tersebut digunakan antara lain untuk pendukung perbaikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan penataan lingkungan secara menyeluruh. Dana Rp 40,8 miliar itu naik lebih dari 200% dibanding anggaran pengelolaan lingkungan pada 2012 sebesar Rp 13,5 miliar.
Direktur Produksi PTPN X T. Sutaryanto mengatakan, pengelolaan lingkungan menjadi salah satu permasalahan yang ada di industri gula. Pengelolaan lingkungan yang terganggu, antara lain karena limbah tak bisa diolah dengan baik, akan membuat produksi terhambat. Sehingga, kinerja PG menurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutaryanto menuturkan, keberhasilan pengelolaan lingkungan akan menjamin terciptanya pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Pengelolaan lingkungan tidak diartikan sebagai cost center yang membebani perusahaan, tapi justru menjadi profit center dalam jangka panjang dan berkelanjutan.
Semakin baik pengelolaan lingkungan, akan makin mengefisienkan perusahaan. Ujung-ujungnya, laba perusahaan bisa meningkat. "Tanpa pengelolaan lingkungan yang prima, mustahil pabrik gula bisa beroperasi lancar, mustahil pula bisa menciptakan laba yang tinggi," ujarnya.
Dari dana pengelolaan Rp 40,8 miliar tersebut, Rp 23 miliar di antaranya akan dikhususkan untuk in-house keeping agar PG selalu terjaga tingkat kebersihannya. "Kami ingin pabrik gula bisa sebersih mal. Ini sejalan dengan program besar Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk menyulap pabrik gula seperti mal dalam hal tingkat kebersihan," ujar Sekretaris PTPN X, M. Cholidi.
Cholidi menjelaskan, roadmap in-house keeping PTPN X terdiri atas tiga pilar, yaitu in-house keeping secara umum, revitalisasi sistem instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan manajemen penguatan sumber daya manusia (SDM).
In-house keeping yang baik akan meningkatkan efisiensi pabrik gula. Kondisi pabrik yang prima dan bersih juga berpengaruh pada tingkat kehilangan pol yang kecil. Pol adalah jumlah gula yang ada dalam setiap 100 gram larutan yang diperoleh dari teknis pengukuran di pabrik. Pabrik bisa menekan tingkat kehilangan bahan olahan sehingga bisa mengoptimalkan efisiensi. In-house keeping yang baik bisa mencegah terjadinya kebocoran dan tumpahan dalam rantai produksi di pabrik gula.
"Sehingga ada lokalisasi bahan olahan yang berpotensi terbuang untuk segera dikembalikan ke siklus produksi secepat dan secermat mungkin. Hal ini tentu saja meningkatkan efisiensi serta menghemat bahan baku dan energi. Dampaknya, profitabilitas pabrik gula akan meningkat," ujarnya.
(hen/dnl)











































