Sawit RI Kembali Diserang 'Kampanye Hitam' di AS

Sawit RI Kembali Diserang 'Kampanye Hitam' di AS

- detikFinance
Rabu, 30 Jan 2013 13:07 WIB
Sawit RI Kembali Diserang Kampanye Hitam di AS
Jakarta - Produk minyak sawit (CPO) Indonesia saat ini sedang 'diserang' oleh isu lingkungan di AS. Ini mengancam turunnya ekspor sawit Indonesia.

Environmental Protection Agency (EPA) di AS menilai produk sawit Indonesia mengandung emisi karbon yang besar. Penilaian ini bakal membuat permintaan sawit Indonesia menurun.

Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Kerjasama Perdagangan Internasional Iman Pambagya saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (30/1/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau positif dan sesuai terbukti dari EPA, pembelian produk CPO Indonesia pasti menurun," ujar Iman.

Namun, menurut Iman, produk CPO tidak serta merta dilarang secara penuh masuk ke AS dengan adanya pencekalan ini. Karena CPO ini paling produktif untuk menghasilkan biodiesel yang dibutuhkan AS.

"Tetapi ini tidak membuat CPO kita dilarang. Dibandingkan produk lain untuk jadi biodiesel, CPO jauh lebih besar," katanya.

Ke depan, Indonesia terus gencar melakukan kampanye putih soal CPO. Karena selama ini, tidak hanya AS, tapi banyak negara Uni Eropa yang melakukan kampanye hitam terhadap produk CPO Indonesia.

"Dan kita fokus pada kejadian faktual ini, dan di luar kita aktif dalam kampanye putih untuk perangi kampanye hitam CPO di pasaran dunia. Kalau ada concern dari lingkungan yaitu orang utan dan banjir untuk kelapa sawit kita akan tangani itu. Uni Eropa juga monitor kita. Ini ada kepentingan, karena mereka punya produk sun flower dan lainnya," cetusnya.

Sementara di tempat yang sama, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku, sampai saat ini belum ada sikap proteksi yang dilakukan AS terhadap CPO Indonesia. Namun Gita bertekad untuk membuktikan produk CPO adalah rendah emisi karbon.

"Di Amerika belum ada yang proteksionis terhadap CPO kita. Memang sudah ada delegasi dari EPA bahwa kemungkinan kita untuk bisa mereduksi emisi karbon itu di bawah 20%. Nah itu sudah kita jelaskan secara ilmiah, ini lagi diolah dan kalau bisa terima posisi semestinya," cetus Gita.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads