Niat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, mencoret PT Merpati Nusantara Airlines dalam pembentukan induk usaha (holding) penerbangan ditanggapi positif oleh karyawan Merpati. Salah seorang penerbang (pilot) Merpati yang tidak disebutkan namanya kepada detikFinance mengatakan manajemen Merpati saat ini masih bermasalah.
"Manajemen Merpati saat ini tidak lebih baik dari sebelumnya," katanya kepada detikFinance, Rabu (6/2/2013).
Seperti diketuhi Kementerian BUMN akan membentuk holding penerbangan yang terdiri atas PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, dan PT Garuda Indonesia Tbk. Nama Merpati tidak masuk dalam holding karena akan mengganggu kinerja perusahaan lain dengan beban hutang yang terlalu besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu kita bisa survive, saat ini Dirut baru yang masuk sejak Mei 2012 tidak ada tambahan armada bahkan terjadi pemotongan rute," imbuhnya.
Ia kembali menegaskan bahwa pencoretan nama Merpati dalam holding company lebih dikarenakan karena kinerja manajemen yang belum ada perbaikan.
"Kemungkinan holding company tidak ada nama Merpati karena masalah internal dan manajemen yang belum ada perbaikan," cetusnya.
Mantan Dirut Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo menilai konsep holding penerbangan ini tidak jelas.
"Dulu saya pernah usul kepada Menteri BUMN sebelumnya yakni Mustafa Abubakar. Bahkan dalam bentuk tulisan, bahwa kalau kita mau mencontoh Singapura, kita lihat cara dia mengatur pasar penerbangannya. Bagaimana Temasek membuat dan mengatur kebijakan. Silk air dan Singapore Airlines tidak saling beririsan pasarnya, begitu juga Tiger Airways dan sekarang Scoot," jelas Jhony.
"Kita punya Garuda, Merpati dan dulu sebelum Citilink ada dibawah Pertamina ada Pelita. Nah, yang terpenting dari holding itu konsepnya! Bukan siapa anggotanya," imbuh Jhony.
(wij/dru)











































